KALIMANTAN TIMUR — SUN telah mengembangkan kapasitas energi surya sekitar 500 megawatt melalui lebih dari 400 proyek sejak berdiri pada 2016, dengan portofolio tersebar di Indonesia, Australia, Vietnam, dan Thailand. Perusahaan menargetkan proyek-proyeknya berkontribusi menekan emisi sekitar 244.549 ton CO2 per tahun pada 2026, setara penanaman 4,06 juta pohon.
Kapasitas terpasang itu dibangun SUN bersama meningkatnya kebutuhan industri terhadap pasokan listrik yang lebih efisien, rendah karbon, dan andal. Director of Power SUN Jefferson Kuesar menyebut perjalanan satu dekade pertama perusahaan menjadi pembuktian bahwa transisi energi bisa berjalan seiring tuntutan industri akan efisiensi dan daya saing.
Portofolio SUN mencakup sektor pertambangan, semen, barang konsumsi cepat saji (FMCG), logistik, kertas, kemasan, elektronik, komponen otomotif, hingga farmasi. Sebaran itu menunjukkan pemanfaatan energi bersih kian luas sebagai bagian dari strategi efisiensi dan daya saing industri.
Dari PLTS ke Sistem Elektrifikasi Terintegrasi
Pada fase berikutnya, SUN memperluas layanan dari pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) menuju sistem elektrifikasi yang lebih terintegrasi. Cakupannya meliputi PLTS, sistem penyimpanan dan manajemen energi, kendaraan listrik, infrastruktur pengisian daya, serta sistem digital untuk pengelolaan energi dan armada.
Fokus utama diarahkan ke sektor dengan kebutuhan energi dan aktivitas operasional tinggi, seperti pertambangan, perkebunan, logistik, manufaktur, kawasan industri, dan FMCG. Setiap implementasi elektrifikasi armada dirancang mengikuti kebutuhan pelanggan, mulai dari jenis kendaraan, pola perjalanan, jarak tempuh, kondisi medan, kebutuhan pengisian daya, hingga ketersediaan energi di lokasi.
Lewat produk Mobility, pendekatan itu mencakup penyediaan kendaraan listrik, pembangunan infrastruktur pengisian daya, skema pembiayaan atau penyewaan, pemeliharaan kendaraan, serta pemantauan melalui Fleet Management System.
Hemat Biaya Energi hingga 83,6 Persen per Perjalanan
Studi kasus SUN pada distributor FMCG di Jabodetabek memberi gambaran konkret. Penggunaan truk listrik untuk rute sekitar 50 kilometer dengan jam operasional pukul 08.00–17.00 berpotensi menghemat biaya energi hingga 83,6 persen per perjalanan. Total biaya kepemilikan dan operasional juga berpeluang turun sekitar 15 persen.
Perhitungan tersebut bertumpu pada ketersediaan listrik jaringan dan pola operasional pelanggan. Director of Mobility SUN Karina Darmawan menegaskan elektrifikasi armada perlu dirancang sebagai bagian dari sistem operasional, bukan sekadar penggantian kendaraan.
"Infrastruktur pengisian daya, pembiayaan, pemeliharaan, dan sumber energi perlu dipersiapkan secara bersamaan agar transisi dapat berjalan efektif dan terukur," ujar Karina.
Kolaborasi dengan Pemerintah hingga PLN
Ke depan, SUN memperkuat pengembangan aset energi bersih dan elektrifikasi di sektor-sektor strategis. Integrasi PLTS, penyimpanan energi, sistem manajemen energi, elektrifikasi armada, infrastruktur pengisian daya, dan sistem digital diarahkan membantu pelanggan menekan biaya operasional, memperkuat ketahanan energi, serta mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Untuk mempercepat implementasi, SUN akan menggandeng pemerintah, regulator, PLN, asosiasi industri, pengelola kawasan, lembaga pembiayaan, mitra teknologi, pemasok, dan kontraktor EPC. Kolaborasi itu dinilai penting karena adopsi energi bersih di sektor industri tidak bisa berjalan sendiri, terutama saat infrastruktur pengisian daya dan pasokan listrik masih menjadi penentu kelayakan proyek.
Bagi pelaku industri, penurunan biaya energi dan operasional menjadi daya tarik utama di tengah tekanan efisiensi. Bagi pasar energi terbarukan nasional, langkah SUN menambah daftar pemain yang bergerak dari pembangkit menuju ekosistem elektrifikasi menyeluruh — sebuah model yang makin banyak dibutuhkan seiring target dekarbonisasi pemerintah.