KALIMANTAN TIMUR — Bank Indonesia memperluas konektivitas dan rantai pasok pangan di Sulawesi, Maluku, dan Papua untuk menahan tekanan inflasi pangan yang mencapai 5,03% secara tahunan. Delapan inovasi dalam program Tallukarsa Pangan Sulampua diluncurkan untuk memperkuat produksi, distribusi, dan kelembagaan pangan di kawasan tersebut.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Thomas A. M. Djiwandono menyampaikan program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) Wilayah Sulampua 2026 di Makassar, Jumat (23/10), sebagai respons atas risiko cuaca ekstrem dan gangguan distribusi yang mengancam pasokan.
Menurut Thomas, dampak inflasi pangan tidak berhenti pada angka statistik. Ketika harga beras naik, porsi nasi masyarakat berkurang. Ketika cabai sulit diperoleh, rumah tangga kesulitan menyediakan sambal. Bila ikan dari daerah produksi terlambat sampai pasar, kualitasnya ikut berubah.
"Masyarakat tidak mengenal inflasi pangan hanya sebagai angka statistik, melainkan masyarakat langsung merasakan dampak dari inflasi pangan di kehidupan sehari-hari," ujarnya.
Harga Cabai Merah Melonjak 25,82% dalam Sebulan
Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo memaparkan inflasi Indonesia September 2026 tercatat 3,28% secara tahunan, masih dalam sasaran 2,5±1%. Namun tekanan harga pangan perlu diantisipasi karena inflasi kelompok pangan bergejolak mencapai 5,03% secara tahunan.
Pada periode 21 September–21 Oktober 2026, harga cabai merah besar naik 25,82% dan cabai merah keriting meningkat 22,38%. Lonjakan tersebut menunjukkan pentingnya menjaga kelancaran pasokan dan distribusi, terutama saat produksi menghadapi risiko cuaca ekstrem.
Dradjad menegaskan pengendalian inflasi tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan produksi. Diperlukan konektivitas antardaerah, efisiensi logistik, dan penguatan kelembagaan pangan agar harga tetap terjangkau di tingkat konsumen.
Cold Chain dan Biaya Angkutan Laut Jadi Hambatan Utama
Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Fatmawati Rusdi menyebut daerahnya berperan penting memasok beras, cabai, bawang merah, jagung, telur, ayam, hingga ikan. Namun upaya menjaga pasokan terkendala perubahan iklim dan distribusi antardaerah.
"Hambatan utama saat ini adalah keterbatasan rantai dingin atau cold chain, serta tingginya biaya distribusi logistik melalui angkutan laut," kata Fatmawati.
Pemerintah daerah mendorong optimalisasi lahan rawa, pemanfaatan pompa, dan penyediaan listrik untuk kegiatan pertanian. Perbaikan jalan dan irigasi juga dibutuhkan agar hasil produksi bergerak lebih lancar.
El Nino Bayangi Produksi hingga Februari 2027
Risiko cuaca ekstrem, termasuk ancaman El Nino hingga Februari 2027, menjadi perhatian dalam pengendalian inflasi. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi produksi dan distribusi pangan sehingga perlu diantisipasi lewat koordinasi pemerintah pusat dan daerah.
Pemerintah menyiapkan sejumlah langkah: memperkuat keterjangkauan harga, menjaga ketersediaan pasokan, memperlancar distribusi, memitigasi dampak iklim, dan memperkuat koordinasi antarpemangku kepentingan. Kerja sama antardaerah, dukungan BUMN logistik, serta program stabilisasi pasokan dan harga pangan masuk dalam paket kebijakan tersebut.
Delapan Inovasi Tallukarsa Pangan Sulampua
Bank Indonesia memperkenalkan delapan inovasi dalam program Tallukarsa Pangan Sulampua sebagai bagian dari GPIPS. Program ini berjalan melalui tiga pilar utama: Karsa Daya, Karsa Sambung, dan Karsa Tata.
- Karsa Daya — peningkatan kapasitas sektor pertanian dan perikanan di daerah produksi.
- Karsa Sambung — penguatan konektivitas dan rantai pasok antardaerah.
- Karsa Tata — penataan kelembagaan pangan agar tata kelola pasokan lebih efektif.
Thomas menyebut inovasi daerah yang sudah berjalan menjadi fondasi perluasan sinergi. Di Sulawesi Selatan, pengembangan peternakan ayam dengan sistem closed house mendukung produksi. Di Gorontalo, program Taksi Nelayan membantu kegiatan perikanan.
"Success story tersebut menjadi fondasi penting bagi Sulampua untuk memperluas sinergi, mereplikasi praktik yang sudah sukses di daerah lain, dan memastikan pengendalian inflasi memberikan dampak yang lebih nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat," kata Thomas.
Dengan rantai pasok yang lebih efisien, pasokan pangan diharapkan menjangkau konsumen lebih lancar dan harga tetap terjaga di tengah tantangan cuaca maupun distribusi.