Pencarian

Borneo Prima Genjot Batu Bara Metalurgi, Cadangan 87,7 Juta Ton

Jumat, 16 Oktober 2026 • 09:21:01 WIB
Borneo Prima Genjot Batu Bara Metalurgi, Cadangan 87,7 Juta Ton
Cadangan batu bara metalurgi PT Borneo Prima di Murung Raya tercatat 87,7 juta ton berdasarkan laporan JORC 2026.

KALIMANTAN TIMUR — PT Borneo Prima menyiapkan produksi batu bara metalurgi dari tambang di Murung Raya, Kalimantan Tengah, dengan cadangan terverifikasi 87,7 juta ton dan sumber daya sekitar 202 juta ton. Perusahaan menargetkan pasokan ke pasar baja global yang permintaannya terus tumbuh, seiring terbatasnya pasokan dari negara produsen utama.

Murung Raya, Kalimantan Tengah — PT Borneo Prima mengantongi cadangan batu bara metalurgi 87,7 juta ton berdasarkan laporan Joint Ore Reserve Committee (JORC) 2026. Angka itu cukup untuk menopang produksi hingga beberapa puluh tahun ke depan, dengan luas konsesi sekitar 15.000 hektare di Kabupaten Murung Raya.

Chief Financial Officer Borneo Prima, Ilham Nugraha, menyebut basis sumber daya dan cadangan perusahaan menjadi landasan operasi jangka panjang. "Borneo Prima memiliki sumber daya (resource) dan cadangan (reserve) yang cukup mencukupi untuk produksi sampai beberapa puluh tahun ke depan. Hasil JORC kami tahun 2026 itu total reserve kami adalah 87,7 juta ton dengan total resource sekitar 202 juta ton," jelas Ilham.

Batu bara metalurgi berbeda dari batu bara termal yang selama ini dikenal sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Jenis ini menjadi bahan baku kokas (coke), material kaya karbon yang dipakai di tanur tinggi untuk melebur bijih besi menjadi baja.

Bukan Sekadar Nilai Kalori

Kualitas batu bara metalurgi tidak diukur dari nilai kalori semata. Kadar abu, sulfur, fosfor, dan kemampuan membentuk kokas menjadi penentu apakah batubara itu layak masuk proses produksi baja.

Guru Besar Pertambangan Institut Teknologi Bandung sekaligus Ketua Indonesia Mining Institute, Prof. Irwandy, menegaskan perbedaan mendasar kedua jenis batu bara tersebut. "Jadi kalau kita lihat, batu bara metalurgi jadi kokas, kemudian menjadi besi baja. Batu bara termal dibakar masuk ke PLTU, jadi listrik. Batu bara metalurgi dapat menggantikan batu bara termal, tetapi tidak sebaliknya. Itu penting sekali," kata Irwandy dalam Media Briefing bersama Borneo Prima bertajuk "Batu Bara Metalurgi Indonesia: Peluang di Balik Industri Baja" di Jakarta, Kamis (15/10/2026).

Secara teknis, batu bara metalurgi bisa dipakai sebagai bahan bakar PLTU dengan cara dicampur hingga mencapai kalori yang dibutuhkan. Namun secara ekonomi langkah itu jarang ditempuh karena harganya jauh lebih mahal. Sebaliknya, batu bara termal tidak bisa dipakai untuk produksi baja lantaran tidak memiliki sifat coking dan kadar abu serta sulfurnya lebih tinggi.

Permintaan Baja Global Jadi Penopang

Prospek batu bara metalurgi tidak lepas dari denyut industri baja dunia. Data World Steel Association (WSA) mencatat produksi baja mentah global pada 2025 mencapai sekitar 1,85 miliar ton, dengan sekitar 52% penggunaan baja berasal dari sektor konstruksi.

Ketua Komite Minerba Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Hendra Sinadia, menilai pasar masih terbuka lebar. "Prospek industri coking coal atau batu bara metalurgi dinilai positif dan menjanjikan, didorong oleh tingginya permintaan dari industri baja global serta keterbatasan pasokan di beberapa negara produsen utama," ujarnya.

International Energy Agency (IEA) memproyeksikan permintaan batu bara metalurgi stabil pada 2026 dan sedikit meningkat pada 2027. WSA memperkirakan permintaan baja global naik tipis dari 1,718 miliar ton pada 2025 menjadi 1,722 miliar ton pada 2026, lalu tumbuh 1,7 persen menjadi 1,752 miliar ton pada 2027.

Peluang Indonesia di Rantai Pasok

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat Indonesia memiliki sekitar 2,12 miliar ton sumber daya batu bara metalurgi dan sekitar 490 juta ton cadangan per 2025. Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah potensial, dan Borneo Prima termasuk perusahaan yang menggarapnya.

Dari sisi produk, batu bara metalurgi Borneo Prima memiliki kadar abu relatif rendah, yakni 4-8%, serta kandungan fosfor yang sangat rendah. Karakteristik itu membuatnya sesuai untuk kebutuhan industri baja yang menuntut kualitas konsisten.

Posisi Indonesia dalam rantai pasok batu bara metalurgi masih tergolong kecil dibandingkan negara produsen utama. Namun dengan cadangan yang terverifikasi JORC dan permintaan baja yang diprediksi naik dalam dua tahun ke depan, Borneo Prima masuk daftar pemain yang bisa memanfaatkan celah pasokan tersebut.

Follow halobontang.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: dunia-energi.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks