BALIKPAPAN — Perubahan pembinaan atlet disabilitas di Kalimantan Timur tidak terjadi dalam semalam. Galang, yang akrab disapa sejak lama, melewati masa ketika atlet hanya menerima tali asih hingga kini mendapat bonus yang setara dengan atlet nondisabilitas. Kini ia dipercaya memimpin National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Balikpapan.
Posisi sebagai ketua membawa pengalaman sebagai mantan atlet, sekaligus membuka jalan bagi generasi baru atlet disabilitas. Ia mengenal dunia olahraga sejak duduk di bangku SD, saat organisasi masih bernama Yayasan Pembina Olahraga Cacat (YPOC), lalu berubah menjadi Dewan Pembina Olahraga Cacat (DPOC), dan akhirnya NPC.
Dari Sepak Bola ke Tenis Meja: Peralihan yang Tak Mudah
Cabang olahraga pertama yang ditekuninya adalah sepak bola. Ketika duduk di kelas I SMP, Galang sudah memperkuat tim Kaltim pada ajang Manurung Cup di Jawa Barat tahun 1992. Namun sepak bola menuntut permainan beregu, sehingga ia beralih menekuni tenis meja.
"Karena sepak bola olahraga beregu. Di kampung ada punya tenis meja, ikut main akhirnya bisa," ujarnya saat dijumpai di sela aktivitasnya, Kamis (29/10/2026).
Peralihan itu bukan tanpa tantangan. Sarana latihan tenis meja untuk atlet disabilitas kala itu masih terbatas. Galang berbagi fasilitas dengan pemain lain dan terkadang baru bisa berlatih setelah meja selesai dipakai.
Ia juga mengandalkan teman-teman untuk berlatih dan menumpang kendaraan menuju lokasi latihan. "Dulu susah untuk latihan, nebeng sama teman naik motor," kenangnya.
Ejekan Masa Sekolah dan Mental yang Ditempa
Keterbatasan fasilitas bukan satu-satunya persoalan. Saat masih bersekolah, Galang sempat mendapat ejekan karena kondisi fisiknya. Ia lahir dengan kondisi tuna daksa dan mengalami amputasi salah satu lengannya.
Pengalaman itu tidak membuatnya berhenti. "Dibilang buntung, putung, tapi biasa saja. Kuat mental," katanya.
Perjuangan itu membuahkan hasil. Tahun 2004, Galang meraih medali perak mewakili Kaltim dalam Pekan Olahraga Cacat Nasional (Porcanas) di Sumatera Selatan. Empat tahun kemudian, ia meraih medali emas dari sepak bola dan perak dari tenis meja.
Tahun 2012 di Riau, ia belum memperoleh medali. Dua tahun kemudian, Galang kembali naik podium dengan dua medali perunggu di Jawa Barat. Ajang di Jawa Barat menjadi salah satu kompetisi terakhirnya sebagai atlet.
Bonus Setara dan Kesempatan Kerja yang Semakin Terbuka
Setelah tak lagi aktif bertanding, fokus Galang bergeser ke pembinaan hingga dipercaya memimpin NPCI Balikpapan. Dari posisi itu, ia melihat dunia olahraga disabilitas berubah cukup besar.
Jika dahulu atlet hanya mendapatkan tali asih, kini penghargaan yang diterima semakin setara dengan atlet nondisabilitas. "Dulu dapat bonus tali asih saja. Sekarang sudah setara bonus dengan yang normal," ujarnya.
Kesempatan penyandang disabilitas membangun masa depan juga semakin terbuka, tidak hanya melalui olahraga tetapi juga kesempatan bekerja dan jalur prestasi. Kondisi itu dinilai menjadi modal penting untuk mendorong lebih banyak penyandang disabilitas menunjukkan kemampuan.
"Kalau di Rumah Saja, Keluar Saja Malu"
Pengalaman sebagai atlet membuat Galang memahami bahwa tantangan terbesar tidak selalu datang dari keterbatasan fisik. Rasa minder dan ketakutan tampil di tengah masyarakat juga bisa menjadi penghalang.
Ia berharap generasi muda penyandang disabilitas tidak menjadikan kondisi fisik sebagai alasan membatasi diri. "Harus berjuang, berani berbuat. Kalau tidak, ya tidak bisa berkembang," katanya.
Galang meminta para penyandang disabilitas berani keluar dari rumah, berinteraksi, dan mencoba berbagai aktivitas. "Kalau di rumah saja, keluar saja malu. Belum tentu tangan atau kaki kembali lagi," ujarnya.
Menurutnya, kesempatan untuk berkembang akan datang ketika seseorang berani mencoba. "Harus percaya diri, buktikan dengan prestasi," tegasnya.
Pesan itu pula yang kini dibawa Galang dalam menjalankan tugas sebagai Ketua NPCI Balikpapan. Ia ingin pengalaman puluhan tahun tidak berhenti sebagai cerita pribadi, tetapi menjadi bekal mendorong atlet-atlet disabilitas berikutnya.