KALIMANTAN TIMUR — Bayi bernama Alena meninggal di usia 28 hari setelah menjalani perawatan intensif di NICU RSUD Dr Soetomo, Surabaya. Sebelumnya, bayi yang baru berusia 24 hari itu diduga diberi telur mentah untuk menurunkan demam. IDAI menegaskan bayi baru lahir belum siap menerima makanan tambahan apa pun selain ASI.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyoroti kasus ini bukan untuk mencari siapa yang salah, melainkan mengingatkan bahwa pemberian makanan pada bayi punya aturan yang jelas. Usia, kesiapan perkembangan, dan keamanan pangan jadi tiga hal yang tidak bisa ditawar.
Kronologi yang Perlu Ibu Tahu
Alena, bayi berusia 24 hari di Surabaya, sempat mengalami demam. Ia kemudian diduga diberi telur mentah oleh neneknya dengan tujuan menurunkan demam. Kondisinya justru memburuk, hingga akhirnya dibawa ke rumah sakit dan membutuhkan perawatan intensif.
Kabar ini pertama kali ramai setelah akun Threads @calistaarisha, yang disebut sebagai tante Alena, meminta bantuan untuk mendapatkan ruang NICU. Alena mulai dirawat di RSUD Dr Soetomo, Surabaya, pada Jumat, 9 Oktober 2026, dan sempat berada dalam kondisi kritis.
Alena Meninggal Setelah Dirawat Intensif
Setelah menjalani perawatan intensif, Alena dinyatakan meninggal dunia pada Minggu, 11 Oktober 2026, di usianya yang menginjak 28 hari. Bayi Alena diperkirakan meninggal sekitar pukul 07.10 WIB. Kabar duka ini disampaikan pihak keluarga melalui media sosial.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, yang mengaku mendapat informasi dari rumah sakit, menyebut Alena mengalami infeksi serius pada saluran pencernaan. Namun, hubungan langsung antara infeksi tersebut dan telur mentah yang dikonsumsi Alena belum dinyatakan resmi oleh rumah sakit. Emil meminta agar keterkaitan dengan apa yang dikonsumsi bayi diserahkan kepada tim medis.
Penjelasan IDAI: Bayi Baru Lahir Belum Butuh Makanan Tambahan
Ketua Pengurus Pusat IDAI dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K) menegaskan bahwa bayi yang belum memasuki usia MPASI tidak membutuhkan makanan atau minuman tambahan. Ini termasuk air putih, jus, kaldu, maupun makanan yang diencerkan.
"Pemberian makanan pada bayi harus didasarkan pada prinsip kecukupan gizi, kesiapan perkembangan, dan keamanan pangan. Keselamatan dan kesehatan anak harus menjadi prioritas utama dalam setiap praktik pemberian makanan," tegas dr. Piprim melalui keterangan resmi, dikutip Senin (12/10/2026).
IDAI mendukung rekomendasi pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama, kemudian dilanjutkan dengan MPASI sambil tetap memberikan ASI. Bayi yang masih berusia tiga sampai empat minggu seperti Alena masih berada dalam periode neonatal dan belum siap menerima makanan padat.
Mengapa Telur Mentah Berbahaya untuk Bayi
IDAI secara khusus mengingatkan agar telur mentah atau setengah matang tidak diberikan kepada bayi dan anak. Telur mentah dapat mengandung bakteri Salmonella, yang menyebabkan salmonelosis atau infeksi saluran cerna.
Gejala infeksi ini bisa berupa diare, demam, nyeri perut, muntah, hingga dehidrasi. Pada bayi dan anak kecil, infeksi bisa berlangsung lebih berat dan berpotensi menyebabkan komplikasi serius. IDAI menegaskan tidak ada keuntungan gizi dari pemberian telur mentah yang bisa membenarkan risiko tersebut.
Jika telur sudah waktunya diperkenalkan sebagai MPASI, aspek kematangan, tekstur, dan keamanan penyajiannya tetap perlu diperhatikan. Telur harus dimasak matang sempurna, bukan setengah matang atau mentah.
Kapan Harus ke Dokter
Segera bawa bayi ke fasilitas kesehatan jika muncul diare berulang, muntah terus-menerus, demam tinggi, lemas, atau tanda dehidrasi seperti mata cekung dan popok yang jarang basah. Pada bayi baru lahir, gejala apa pun yang memburuk cepat tidak boleh ditunggu sampai besok.
Kasus Alena jadi pengingat bahwa niat baik menurunkan demam tidak selalu sejalan dengan cara yang aman. Untuk bayi di bawah enam bulan, ASI sudah cukup memenuhi kebutuhan gizi dan cairannya. Jika bayi demam atau rewel, konsultasi ke dokter adalah langkah pertama yang paling tepat, bukan memberikan makanan atau minuman tambahan.