Pencarian

Kemarau Panjang Picu 329 Karhutla di Kaltim, Wakil Ketua Komisi III DPRD Samarinda Dorong Salat Istisqa Serentak

Sabtu, 22 Agustus 2026 • 16:38:31 WIB
Kemarau Panjang Picu 329 Karhutla di Kaltim, Wakil Ketua Komisi III DPRD Samarinda Dorong Salat Istisqa Serentak
Wakil Ketua Komisi III DPRD Samarinda menyampaikan imbauan salat istisqa saat konferensi pers terkait karhutla di Kaltim.

SAMARINDA — Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim menunjukkan lonjakan signifikan kasus karhutla. Sebanyak 134 kejadian terjadi hanya dalam dua pekan pertama Agustus, menambah total 329 kejadian hingga 18 Agustus 2026.

Sebelumnya, BPBD Kaltim mencatat 218 kejadian karhutla hingga 11 Agustus 2026. Luas area terdampak mencapai 1.287,93 hektare, dengan rincian 831,50 hektare kawasan hutan, 443,62 hektare lahan, dan 12,81 hektare kebun.

Mengapa Salat Istisqa Dianggap Penting saat Kemarau?

Arif menilai kondisi cuaca kering yang diprediksi BMKG bakal diperpanjang fenomena El Niño membutuhkan respons dari berbagai sisi. Ikhtiar spiritual dinilai perlu digelorakan bersamaan dengan penguatan mitigasi di lapangan.

“Salat istisqa ini bagian dari ikhtiar kita sebagai umat Islam. Ketika kondisi alam mulai kering dan hujan belum turun, kita perlu bersama-sama memohon kepada Allah SWT agar diberikan hujan yang membawa manfaat dan keberkahan,” ujar Arif, Sabtu (22/8/2026).

Dorongan untuk Pemerintah Kabupaten/Kota Lain di Kaltim

Langkah serupa diharapkan tidak hanya berhenti di Kota Samarinda. Arif secara khusus mengajak pemerintah kabupaten dan kota lain di Kalimantan Timur untuk menggelar salat istisqa bersama MUI dan masyarakat.

“Harapan saya bukan hanya Samarinda. Kalau memungkinkan, seluruh pemerintah daerah di Kalimantan Timur bersama MUI dan masyarakat bisa melaksanakan salat istisqa. Ini menjadi ikhtiar kita bersama,” katanya.

Doa Harus Seiring dengan Aksi Nyata

Di tengah dorongan itu, Arif mengingatkan bahwa upaya spiritual tidak berdiri sendiri. Kewajiban menjaga lingkungan tetap menjadi prioritas utama, terutama menghentikan praktik pembakaran lahan yang memicu munculnya titik api.

“Doa harus disertai ikhtiar. Kita memohon hujan kepada Allah, tetapi kita juga punya kewajiban menjaga lingkungan, tidak membakar lahan, mengurangi kerusakan hutan dan menjaga sumber air,” tegasnya.

Arif juga mengajak masyarakat memperbanyak istighfar, doa, dan sedekah di tengah kondisi kemarau. “Semoga dengan salat istisqa dan doa bersama, Allah SWT segera menurunkan hujan yang cukup, merata dan membawa maslahat bagi seluruh masyarakat Kalimantan Timur,” pungkasnya.

Follow halobontang.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jurnalborneo.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks