KALIMANTAN TIMUR — Budi menyampaikan pernyataan itu menanggapi pemberitaan Bloomberg yang menyebut sejumlah konglomerat Indonesia, termasuk keluarga pemilik PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), tengah mengamankan aset ke luar negeri. Menurut dia, langkah tersebut sudah berjalan sejak 2023–2024, jauh sebelum pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dimulai.
"Hal normal ketika mengembangkan bisnis di luar negeri, ada beberapa perusahaan kemarin beli aset di negara lain, apakah itu capital flow? Menurut saya enggak lah gitu, itu bagian dari upaya mengembangkan bisnis," ucap Budi kepada Katadata, Rabu (9/9).
Dana Ekspansi Berasal dari Kredit Asing, Bukan Capital Flight
Budi memerinci salah satu aksi korporasi terbesar keluarga Hartono di luar negeri: akuisisi produsen kertas rokok asal Austria melalui Evergreen Hill Enterprise Pte, entitas milik keluarga Hartono. Ekspansi itu juga mencakup bisnis kertas khusus di Amerika Serikat.
Menurut Budi, pembiayaan akuisisi tersebut berasal dari pinjaman modal asing, bukan dari pemindahan dana yang sebelumnya ditempatkan di Indonesia.
"Di kertas itu pun menggunakan pembiayaan asing, pembiayaan dapat pinjaman, bukan dari capital flow," kata Budi lagi.
Dengan struktur pendanaan itu, Budi menepis anggapan bahwa aksi korporasi tersebut merupakan bentuk pengalihan dana dari perusahaan ke luar negeri. Ia menyebutnya sebagai ekspansi bisnis untuk menopang keberlanjutan usaha secara keseluruhan.
Portofolio di Dalam Negeri Capai 90%
Keluarga Hartono tercatat sebagai salah satu pemegang saham pengendali BBCA, bank swasta dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia. Porsi investasi 90% di dalam negeri yang disebut Budi mencakup portofolio di sektor perbankan, hasil tembakau, dan sejumlah lini usaha lain.
Budi menegaskan keluarga Hartono ingin tumbuh bersama Indonesia. Menurut dia, bisnis-bisnis yang dibangun turut berkontribusi kepada negara, salah satunya lewat penciptaan lapangan kerja.
Ia juga memastikan ekspansi ke luar negeri tidak berkaitan dengan situasi politik dalam negeri di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
"Jadi kami ini siapapun presidennya, bisnis kami harus tetap jalan, nggak boleh mati," kata Budi.
Peternakan Sapi Perah dan Sektor Teh Jadi Fokus Berikutnya
Di dalam negeri, Grup Djarum tengah menggencarkan sejumlah proyek strategis. Salah satunya pembangunan peternakan sapi perah yang baru memasuki tahap groundbreaking.
Proyek tersebut ditujukan untuk meningkatkan produksi susu segar domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap susu impor. Budi menyebut keluarga Hartono juga terus menjajaki pengembangan bisnis di sektor makanan dan minuman, termasuk teh.
"Siapapun presidennya, siapapun penguasanya, kami harus terlibat aktif dalam mengembangkan ekonomi di negara yang kita cintai ini," ucap Budi.
Bloomberg sebelumnya melaporkan sedikitnya sembilan entitas berbasis di Singapura dan London yang terikat dengan keluarga Hartono telah menanamkan modal setidaknya US$ 1,4 miliar di luar negeri. Pergerakan modal sejumlah konglomerat Indonesia itu disebut sebagai langkah mengamankan aset di negara lain.