SAMARINDA — Tim kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur (Kaltim) mulai turun ke lapangan untuk melaksanakan Transmission Assessment Survey (TAS) tahap pertama di 44 sekolah dasar yang tersebar di Kabupaten Kutai Barat. Sasaran pemeriksaan difokuskan pada siswa kelas satu dan dua sebagai indikator utama keberhasilan penghentian penularan filariasis.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim Jaya Mualimin menegaskan bahwa anak usia sekolah menjadi prioritas dalam survei ini. "Langkah proaktif ini kami fokuskan pada anak usia sekolah sebagai indikator utama untuk memastikan keberhasilan penghentian penularan filariasis di daerah endemis," ujarnya di Samarinda, Sabtu.
Kutai Barat Catat Kasus Kronis Tertinggi di Kaltim
Perhatian khusus terhadap Kutai Barat bukan tanpa alasan. Berdasarkan data kesehatan terkini, kabupaten ini menempati urutan pertama dengan 41 kasus kronis penyakit kaki gajah, jauh melampaui wilayah lain di provinsi tersebut.
Sebaran kasus kronis lainnya masih ditemukan di Kabupaten Paser dengan sembilan kasus, Kutai Timur lima kasus, Penajam Paser Utara (PPU) tiga kasus, Kutai Kartanegara dua kasus, dan Kota Bontang satu kasus. Enam kabupaten/kota tersebut berstatus daerah endemis filariasis.
Jadwal Survei TAS 2 dan TAS 3 untuk Enam Daerah Endemis
Pemerintah daerah telah menyusun peta jalan tindak lanjut berupa tahapan survei penilaian penularan. Untuk Survei TAS 2, Kabupaten Kutai Timur dijadwalkan melaksanakannya pada 2026, disusul Kabupaten Berau pada 2027, dan Kutai Barat pada 2028.
Sementara itu, tiga wilayah lain, yakni Kabupaten Paser, Penajam Paser Utara, dan Mahakam Ulu, akan melangkah pada tahapan Survei TAS 3 yang ditargetkan berlangsung pada 2027.
Partisipasi Sekolah dan Orang Tua Kunci Sukses Eliminasi
Jaya menegaskan bahwa seluruh rangkaian survei berkelanjutan ini merupakan prosedur standar yang wajib dilalui daerah untuk meraih sertifikat eliminasi. Dukungan dari berbagai pihak dinilai krusial dalam menyukseskan agenda pengambilan sampel darah pada anak-anak tersebut.
Pemerintah daerah terus mendorong partisipasi aktif pihak sekolah, orang tua murid, hingga perangkat desa. Keterlibatan mereka menjadi penentu kelancaran pelaksanaan survei di lapangan sekaligus kunci dalam memutus mata rantai penularan penyakit kaki gajah di Kalimantan Timur.