Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, melonjak menjadi 3.587 kasus sepanjang Juli hingga Agustus 2026. Peningkatan ini mendorong Dinas Kesehatan Berau menempatkan ISPA sebagai penyakit peringkat kedua setelah hipertensi, sekaligus memicu penguatan kesiapsiagaan sektor kesehatan menghadapi dampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
BERAU — Dinas Kesehatan Berau mencatat kasus ISPA mencapai 3.587 kasus pada periode pekan ke-29 hingga ke-33, atau sekitar Juli hingga Agustus 2026. Lonjakan ini terjadi seiring kabut asap karhutla yang menyelimuti sejumlah lokasi di kabupaten penghasil batu bara tersebut.
Sebelumnya, ISPA berada di posisi ke-10 penyakit terbanyak di fasilitas kesehatan. Kini penyakit saluran pernapasan itu menanjak ke peringkat kedua setelah hipertensi.
Anak-Anak dan Ibu Hamil Menjadi Kelompok Paling Rentan
Wakil Bupati Berau, Gamalis, saat meninjau Puskesmas Kampung Bugis dan Puskesmas Tanjung Redeb, Kamis, menyebut kasus ISPA banyak ditemukan pada anak-anak dan ibu hamil. Kedua kelompok ini dinilai paling rentan terhadap paparan asap.
"Berdasarkan pemantauan di fasilitas kesehatan, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mengalami peningkatan. Dari sebelumnya berada di posisi 10, kini menempati peringkat kedua setelah hipertensi," kata Gamalis.
Mengapa Kualitas Udara dalam Ruangan Juga Berbahaya?
Gamalis menekankan bahwa ancaman tidak hanya berasal dari udara terbuka. Partikulat halus PM2.5 yang mencemari udara dalam ruangan dapat masuk melalui hidung dan langsung menembus paru-paru, sehingga berisiko memicu gangguan pernapasan lebih serius.
Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah selama kondisi udara belum membaik. Jika terpaksa beraktivitas di luar, penggunaan masker menjadi langkah perlindungan yang disarankan.
"Kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama dan segera diantisipasi agar dampak karhutla terhadap kesehatan tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih serius," ujar Gamalis.
Peningkatan kasus ISPA disebut terjadi dalam beberapa bulan terakhir hingga memasuki awal September. Pemerintah Kabupaten Berau pun memperkuat kesiapsiagaan sektor kesehatan untuk mengantisipasi meluasnya dampak kabut asap terhadap warga.