BALIKPAPAN — Ancaman karhutla di Kalimantan Timur memasuki fase kritis. Polda Kaltim bersama Pemprov Kaltim memutuskan bergerak lebih awal dengan menggelar Operasi Aman Nusa II, menyusul prakiraan BMKG bahwa dampak El Nino akan terasa pada periode Juli hingga September 2026.
Kapolda Kaltim Irjen Pol. Endar Priantoro menegaskan bahwa persoalan karhutla tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. "Karhutla bukan sekadar persoalan lingkungan. Dampaknya bisa meluas menjadi krisis multidimensi, mulai dari gangguan ekonomi, kenaikan harga pangan, konflik pemanfaatan sumber daya alam, hingga potensi terganggunya keamanan dan ketertiban masyarakat," ujarnya di Aula Gedung Mahakam Polda Kaltim.
Ia mengingatkan bahwa jika tidak diantisipasi secara terpadu, berbagai persoalan tersebut dapat berkembang menjadi perfect storm scenario, yakni situasi ketika sejumlah krisis terjadi bersamaan dan menimbulkan dampak yang lebih besar.
54 Hotspot Masih Aktif Tersebar di Lima Kabupaten
Data real-time dari aplikasi Lembuswana milik Polda Kaltim menunjukkan titik api masih menyala di sejumlah wilayah. Pada hari pelaksanaan rapat koordinasi, terpantau 54 hotspot yang tersebar di Kutai Timur, Berau, Paser, Kutai Kartanegara, dan Kutai Barat.
Angka ini menjadi pengingat bahwa pencegahan tidak boleh menunggu api membesar. "Kita harus bergerak lebih awal melalui langkah-langkah pencegahan," tegas Endar.
Operasi Aman Nusa II: 1.500 Personel dan Enam Satgas Dikerahkan
Sebagai bentuk kesiapan, Polda Kaltim mengerahkan kekuatan besar. Operasi Aman Nusa II Tahun 2026 melibatkan sekitar 1.500 personel yang terbagi dalam enam satuan tugas, yakni SAR, Pengungsian, Dokkes, Penegakan Hukum, Humas, dan Bantuan Operasi.
Selain personel, infrastruktur pendukung juga disiapkan. Polda Kaltim telah menyiapkan 227 embung sebagai sumber air, membangun 28 sumur bor, serta 24 sekat kanal di kawasan rawan karhutla. Patroli terpadu bersama TNI dan pemerintah daerah juga terus diperkuat.
Gubernur: Mencegah Jauh Lebih Efektif daripada Memadamkan
Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas menekankan pentingnya upaya preventif. "Pengalaman menunjukkan bahwa mencegah jauh lebih efektif dibandingkan menangani kebakaran yang sudah terjadi," katanya.
Rudy meminta seluruh pemangku kepentingan memperkuat patroli terpadu, deteksi dini, pemantauan titik panas, edukasi kepada masyarakat, serta penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan. Ia juga mengingatkan dampak El Nino tidak hanya pada karhutla, tetapi juga mengancam ketersediaan air bersih, produktivitas pertanian dan perkebunan, kesehatan masyarakat akibat kabut asap, hingga aktivitas ekonomi.
Oleh karena itu, mitigasi harus melibatkan seluruh unsur, mulai dari pemerintah daerah, TNI, Polri, BMKG, BPBD, Manggala Agni, dunia usaha, akademisi, media, hingga masyarakat.
Rehabilitasi Mangrove Jadi Benteng Pertahanan Ekologi
Di tengah ancaman kekeringan, Pemprov Kaltim tidak hanya fokus pada penanganan api. Program rehabilitasi ekosistem terus berjalan untuk menjaga daya dukung lingkungan. Sepanjang tahun ini, pemerintah menargetkan rehabilitasi lebih dari 1.100 hektare kawasan mangrove, termasuk penanaman 12.000 bibit mangrove di Pantai Lamaru, Balikpapan.
Baik Kapolda maupun Gubernur sepakat bahwa keberhasilan menghadapi ancaman El Nino tidak dapat dilakukan secara sektoral. Rudy berharap rapat koordinasi tersebut menghasilkan langkah-langkah nyata yang segera diterapkan di lapangan.
"Semangat kolaborasi dan tanggung jawab bersama, kami optimistis Kalimantan Timur mampu menghadapi musim kemarau dan fenomena El Nino dengan lebih baik, sekaligus menjaga hutan, lingkungan, dan keselamatan masyarakat dari ancaman kebakaran hutan dan lahan," ucap Rudy.