BONTANG — Kondisi jaringan kabel telekomunikasi di kawasan perniagaan Jalan KS Tubun, Bontang, menjadi keluhan warga. Satu tiang penuh kabel terlihat nyaris roboh dan hanya ditopang sebatang tangga darurat. Sepanjang jalan tersebut, puluhan kabel dari berbagai penyedia layanan menumpuk di tiang yang sama tanpa penataan.
Ridwan, warga setempat, menyebut tiang tersebut sudah tidak mampu lagi menahan beban kabel yang terus bertambah. Ia khawatir kabel jatuh ke jalan dan membahayakan pengendara yang melintas.
"Itu ambruk sudah. Tiangnya cuman tahan pakai tangga. Kalau kesenggol terus kabel jatuh, akan bahayakan pengendara," ucap Ridwan.
Selain risiko keselamatan, warga menilai kabel yang membentang rendah mengganggu aktivitas perniagaan di kawasan itu. Ridwan meminta Pemkot Bontang turun tangan menertibkan jaringan yang dinilai merusak pemandangan kota.
"Kabel ini juga ganggu estetika kota. Harus dibereskan sebelum ada korban," sambungnya.
Program Kota Tanpa Kabel di Udara Sudah Direncanakan
Persoalan kabel semrawut sebenarnya pernah menjadi perhatian Pemkot Bontang. Pemerintah kota berencana merealisasikan program penataan kabel bawah tanah untuk memperbaiki keindahan dan kerapian tata kota. Kelurahan Berbas Pantai dan Berbas Tengah ditunjuk sebagai proyek percontohan.
Wali Kota Bontang Neni Moernaeni menyatakan seluruh kepala daerah di Indonesia menerima arahan Presiden Prabowo Subianto untuk membenahi estetika kota. Salah satu langkah yang ditekankan adalah memindahkan kabel yang tampak semrawut ke bawah tanah.
Menindaklanjuti arahan tersebut, Pemkot Bontang menetapkan dua wilayah sebagai tahap awal pelaksanaan program. Berbas Pantai dan Berbas Tengah dipilih karena dinilai tidak rawan banjir, sehingga lebih memungkinkan untuk pembangunan jaringan bawah tanah.
"Kami masih rencanakan," ucap Neni.
Mengapa Berbas Pantai dan Berbas Tengah Dipilih Lebih Dulu
Pemilihan dua kelurahan itu bukan tanpa alasan. Kondisi topografi yang tidak rawan banjir membuat penggalian dan pemasangan jaringan bawah tanah lebih aman dari risiko genangan. Dua kawasan tersebut juga dinilai lebih siap dari sisi infrastruktur pendukung.
Namun, hingga kini belum ada keterangan resmi soal jadwal pelaksanaan maupun anggaran yang disiapkan untuk program tersebut. Warga berharap rencana penataan kabel tidak berhenti di tahap wacana, mengingat kondisi di Jalan KS Tubun terus memburuk.
Kabel yang menumpuk di satu tiang menimbulkan risiko ganda: keselamatan pengendara jika tiang roboh, serta potensi gangguan layanan telekomunikasi bila jaringan rusak. Kawasan perniagaan di sekitar Jalan KS Tubun menjadi salah satu titik yang paling terdampak karena aktivitas warga dan kendaraan cukup padat setiap hari.
Harapan Warga Bontang
Warga meminta Pemkot Bontang memprioritaskan penertiban kabel di titik-titik rawan, terutama tiang yang kondisinya sudah rapuh. Penataan dinilai mendesak agar tidak menunggu insiden terjadi lebih dulu.
Selain penertiban fisik, warga berharap ada koordinasi dengan penyedia layanan telekomunikasi untuk menata jalur kabel secara permanen. Tanpa penataan menyeluruh, kabel baru berpotensi kembali menumpuk di tiang yang sama setelah dibenahi.
Pemkot Bontang belum menyampaikan langkah jangka pendek untuk menangani tiang yang nyaris ambruk di Jalan KS Tubun. Program kota tanpa kabel di udara masih berada di tahap perencanaan.