KALIMANTAN TIMUR — Anak yang tampak baik sepanjang hari di sekolah bisa berubah jadi mudah tantrum begitu sampai rumah. Tiga psikolog menjelaskan fenomena "keruntuhan pengendalian diri pasca-sekolah" dan membagikan cara menyambut anak pulang sekolah agar suasana rumah tetap tenang.
Psikolog klinis Dr. Holly Schiff, Psy.D., menyebut fenomena ini sebagai "keruntuhan pengendalian diri pasca-sekolah". Anak berhasil menahan diri mengikuti aturan, mengelola emosi, dan menghadapi situasi sosial sepanjang hari, lalu melepaskan semuanya begitu sampai rumah.
Bagi ibu, kondisi ini sering terasa tidak adil. Anak tampak patuh di kelas, tetapi berubah mudah tersinggung, menangis, bertengkar, atau mengamuk di rumah.
"Rumah sering kali menjadi tempat anak merasa paling aman, jadi emosi yang dipendam sepanjang hari dapat keluar," kata Schiff, dikutip dari laman Parade.
Mengapa Anak "Baik" di Sekolah tapi Tantrum di Rumah
Schiff menegaskan anak bukan sedang berperilaku lebih buruk di rumah. Mereka kemungkinan hanya kehabisan kapasitas emosional dan mental setelah seharian tampil.
Karena itu, perubahan rutinitas sepulang sekolah bisa mencegah ledakan emosi. Psikolog Caitlin Slavens, BAACS, MC, R Psych, menyebut sistem saraf anak butuh waktu tenang sebelum masuk aktivitas berikutnya.
1. Beri Waktu Istirahat Sebelum Aktivitas Lain
Psikolog klinis Dr. Amy Kincaid Todey, Ph.D., menyebut waktu istirahat ini sebagai fase dekompresi, semacam "landasan pacu" antara sekolah dan rumah. Anak diberi jeda tanpa tuntutan untuk langsung menghasilkan sesuatu.
Caranya bisa disesuaikan dengan minat anak: camilan favorit, membaca, menggambar, bermain LEGO, bermain di luar, atau mendengarkan musik. Kuncinya, jeda ini bisa diprediksi anak.
"Anak-anak umumnya akan lebih baik jika mereka tahu, 'Saya bisa pulang, makan camilan, dan punya waktu untuk diri sendiri sebelum melanjutkan ke kegiatan berikutnya'," ujar Schiff.
2. Biarkan Anak Memilih: Bermain Dulu atau PR Dulu
Jangan langsung memaksa anak mengerjakan PR begitu ia melepas sepatu. Slavens menuturkan sebagian besar anak mendapat manfaat dari bermain lebih dulu sebelum belajar.
Alasannya masuk akal. Peralihan dari enam sampai tujuh jam di sekolah ke aktivitas duduk terasa berat, terutama bagi anak kecil atau anak dengan ADHD, kecemasan, sensitivitas sensorik, dan kesulitan belajar.
Sebagian anak lain justru memilih menyelesaikan PR lebih dulu. Menurut Todey, mereka merasa tugas yang belum selesai akan terus menghantui dan menambah stres.
Prinsipnya tetap sama: beri jeda sebelum tuntutan, tetapi jaga kepastian agar sore hari tidak kacau.
3. Tetapkan Batas Waktu Dekompresi
Schiff mengingatkan durasi istirahat tetap penting. Jeda 20-30 menit berbeda jauh dengan bermain tanpa batas waktu yang membuat anak makin sulit mengerjakan PR.
Keseimbangan yang tepat bergantung pada usia anak, temperamen, beban tugas, dan jam pulang. Ibu bisa menyesuaikan sendiri tanpa harus menyamakan dengan anak lain.
Kapan Perlu Konsultasi ke Psikolog Anak
Ledakan emosi sesekali setelah sekolah masih wajar dan umumnya mereda setelah anak beristirahat. Namun, bila tantrum makin sering, berlangsung lama, disertai agresi, atau mengganggu kegiatan belajar dan tidur, sebaiknya konsultasikan ke psikolog anak.
Begitu pula jika anak menunjukkan tanda stres berat di sekolah, seperti menolak berangkat, sering sakit perut pagi hari, atau menarik diri dari teman.
Yang Bisa Ibu Lakukan Malam Ini
Coba siapkan camilan dan 20 menit waktu bebas tuntutan begitu anak sampai rumah. Tanyakan dulu apa yang ia mau lakukan, lalu susun sisa sore bersama.
Perubahan kecil pada rutinitas pulang sekolah bisa membuat anak lebih tenang dan rumah terasa lebih hangat.