Pola Konsumsi Listrik yang Berbeda dari Daerah Lain
KALIMANTAN TIMUR — General Manager PLN UID Bali, Ajrun Karim, mengungkapkan karakteristik pemakaian listrik di Bali memiliki keunikan tersendiri. Di daerah lain, beban listrik siang hari biasanya jauh lebih rendah—bahkan hampir setengah dari beban puncak. Pola di Bali justru berkebalikan.
"Kalau di tempat lain biasanya beban siang dan beban puncak bisa berbeda jauh, bahkan hampir dua kali lipat. Di Bali, beban siang dan beban puncaknya tidak terlalu berbeda," ujar Ajrun dalam jumpa pers di Denpasar, Kamis (20/8/2026).
Data terbaru mencatat beban puncak listrik Bali berada di angka 1.295–1.300 MW. Adapun beban siang hari tercatat sekitar 1.285 MW. Selisih tipis ini menjadi sinyal kuat bahwa aktivitas ekonomi, perkantoran, dan sektor usaha di Bali berjalan intensif sepanjang hari.
Menurut Ajrun, listrik kini menjadi instrumen dasar dalam kehidupan masyarakat modern. Hampir semua lini kehidupan bersinggungan dengan energi listrik, mulai dari kebutuhan rumah tangga, operasional perkantoran, hingga kegiatan usaha.
"Listrik itu menjadi salah satu instrumen dasar kehidupan. Dari situ bisa ditebak pertumbuhan ekonomi dan ekonomi itu berputar. Listrik masih dipakai di rumah, di kantor, maupun untuk kegiatan usaha," jelasnya.
Perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup turut mendorong meningkatnya ketergantungan terhadap listrik. Penggunaan telepon seluler, perangkat elektronik, hingga operasional bisnis modern membuat kebutuhan energi ini terus bertumbuh seiring menggeliatnya perekonomian.
Ancaman Krisis Pasokan 2027 dan Dorongan Kemandirian Energi
Di tengah optimisme pertumbuhan ekonomi, PLN justru menyoroti tantangan besar yang mengintai Bali. Ajrun menegaskan bahwa tanpa tambahan pasokan energi, sistem kelistrikan Bali diprediksi akan mengalami defisit pada 2027.
"Kalau pada 2027 Bali tidak ada tambahan supply energi, ada kemungkinan Bali akan mengalami kondisi kekurangan pasokan," ungkapnya.
Saat ini, sistem kelistrikan Bali masih bertumpu pada pasokan dari Pulau Jawa yang disalurkan melalui empat sirkuit kabel laut. Infrastruktur bawah laut ini menjadi penopang utama kebutuhan listrik masyarakat dan dunia usaha di Pulau Dewata.
Kondisi ini menjadi dasar bagi PLN untuk mendorong percepatan pembangunan pembangkit energi baru di Bali. Upaya ini sejalan dengan arah kebijakan Pemerintah Provinsi Bali yang mencanangkan kemandirian energi. Bali dinilai perlu mengurangi ketergantungan terhadap pasokan listrik dari luar pulau sekaligus mengoptimalkan potensi sumber energi yang tersedia di daerah.
Arah Kebijakan ke Depan
Langkah percepatan pembangunan pembangkit ini bukan sekadar wacana. PLN bersama pemerintah daerah tengah mengkaji berbagai opsi pengembangan energi terbarukan yang potensial dikembangkan di Bali. Dengan begitu, ketahanan energi pulau ini bisa lebih terjaga seiring terus tumbuhnya aktivitas ekonomi dan pariwisata yang menjadi tulang punggung daerah.
Kemandirian energi di Bali menjadi isu strategis yang tidak bisa ditunda. Pertumbuhan konsumsi listrik yang tinggi—tercermin dari beban siang yang hampir menyamai beban puncak—menunjukkan bahwa ekonomi Bali bergerak dinamis. Tanpa antisipasi pasokan yang memadai, momentum pertumbuhan ini justru bisa terhambat oleh keterbatasan infrastruktur kelistrikan.