SAMARINDA — Cuaca panas ekstrem yang melanda Kalimantan Timur dalam beberapa pekan terakhir tidak hanya menyebabkan kekeringan, tetapi juga membawa ancaman ganda bagi kesehatan warga. Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kaltim mencatat suhu udara pada siang hari kini bisa menembus 34 hingga 36 derajat Celcius, kondisi yang mempercepat penguapan dan menurunkan volume air bersih di masyarakat.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Kaltim, dokter Eryariyatin, mengungkapkan bahwa kelangkaan air bersih menjadi pintu masuk berbagai penyakit yang menyerang saluran pencernaan. "Kurangnya air bersih berisiko menimbulkan penyakit saluran pencernaan seperti diare. Oleh karena itu, masyarakat sangat dianjurkan untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)," jelas Eryariyatin di Samarinda, Rabu.
Karhutla di Kukar dan Paser Memicu Gangguan Pernapasan
Persoalan tidak berhenti pada ketersediaan air. Dampak ikutan dari kemarau panjang adalah munculnya titik-titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang telah terdeteksi di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Paser. Kabut asap yang dihasilkan menjadi pemicu utama penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) dan pilek di kalangan warga.
Eryariyatin menegaskan bahwa langkah perlindungan diri menjadi krusial, terutama bagi mereka yang harus beraktivitas di luar ruangan. Warga disarankan untuk mengurangi kegiatan di luar rumah dan wajib menggunakan masker standar saat bepergian guna meminimalisir paparan partikel asap.
"Kelompok rentan seperti penderita asma, penyakit jantung, lanjut usia (lansia), dan anak-anak sangat rentan mengalami sesak napas," tambahnya, menyoroti kelompok yang paling berisiko mengalami komplikasi akibat kualitas udara yang memburuk.
Tim Reaksi Cepat dan Digitalisasi Laporan Kesehatan
Menghadapi situasi ini, Dinkes Kaltim tidak tinggal diam. Pemerintah provinsi saat ini tengah memproses pembentukan Tim Reaksi Cepat yang disiagakan penuh untuk turun ke lapangan apabila terjadi lonjakan masalah kesehatan di masyarakat. Langkah ini merupakan bagian dari koordinasi lintas sektor bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.
Selain kesiapan personel, sistem deteksi dini juga diperkuat melalui pemanfaatan teknologi. Dinkes Kaltim kini mengoperasikan aplikasi khusus yang mampu menghimpun dan mencatat laporan secara real-time dari berbagai fasilitas kesehatan dan puskesmas. Digitalisasi ini memungkinkan pemerintah memetakan sebaran penyakit secara cepat dan akurat, sehingga respons penanganan dapat dilakukan lebih tepat sasaran.