KALIMANTAN TIMUR — Indeks acuan pasar modal Indonesia ditutup menguat tipis 0,04 persen atau 2,45 poin ke level 6.041,97 pada Rabu (15/7). Penguatan ini terjadi meskipun investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp60 miliar. Saham dengan tekanan jual asing terbesar antara lain TLKM, BRMS, ASII, BBCA, dan ENRG.
Dua Hari Bertahan di Support 6.000 Jadi Katalis
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menilai kemampuan IHSG bertahan di level support 6.000 selama dua hari terakhir menjadi fondasi bagi kelanjutan penguatan. "Hari ini IHSG berpotensi melanjutkan kenaikan," ujarnya, Kamis (16/7).
Fanny memproyeksikan pergerakan indeks hari ini berada di rentang support 6.000-6.025. Sementara itu, level resistansi diperkirakan bergerak di kisaran 6.060 hingga 6.120.
Inflasi AS Mereda, Ekspektasi Suku Bunga The Fed Turun
Dari eksternal, pasar mencermati arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat. Pernyataan Presiden The Fed New York, John Williams, menjadi angin segar bagi pelaku pasar. "Ia menyebut terdapat alasan yang cukup kuat untuk meyakini inflasi telah mencapai puncaknya dan akan terus menurun," kata Fanny.
Optimisme semakin terkonfirmasi setelah rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) AS yang secara tak terduga turun 0,3 persen di bulan Juni. Angka ini berlawanan dengan konsensus yang memperkirakan PPI tidak berubah. Secara tahunan, inflasi produsen tercatat sebesar 5,5 persen.
Meredanya tekanan inflasi produsen mendorong ekspektasi bahwa The Fed akan menahan laju kenaikan suku bunga. Kondisi ini memicu penguatan bursa saham di Wall Street dan kawasan Asia pada perdagangan Rabu kemarin.
Level Psikologis dan Arah Pergerakan Selanjutnya
Level 6.000 menjadi garis psikologis penting bagi investor. Selama level ini tidak ditembus ke bawah, peluang rebound menuju area resistansi 6.060-6.120 masih terbuka. Namun, investor tetap perlu mencermati aliran modal asing yang masih tercatat keluar pada sesi sebelumnya.
Pergerakan IHSG ke depan akan sangat bergantung pada data inflasi konsumen AS yang akan dirilis dalam waktu dekat serta arah kebijakan suku bunga global. Pelaku pasar disarankan untuk mencermati sektor-sektor yang menjadi motor penggerak utama indeks.
Investasi mengandung risiko.