KALIMANTAN TIMUR — The Gunners akhirnya bisa bernapas lega. Gelar juara Liga Inggris musim 2025/2026 sudah di tangan, dan ini bukan sekadar trofi biasa. Ini adalah akhir dari penantian yang terasa tak berujung sejak musim 2003/2004—ketika Arsenal terakhir kali menjadi yang terbaik di Inggris dengan status tak terkalahkan alias The Invincibles.
Bournemouth Jadi Penentu, Haaland Tak Cukup Sendiri
Manchester City datang ke Vitality Stadium dengan misi wajib menang untuk menjaga asa juara. Namun, Bournemouth punya rencana lain. Tim tuan rumah mengejutkan publik lewat gol Eli Junior Kroupi di menit ke-39, membuat The Citizens tertinggal hingga babak pertama usai.
Erling Haaland memang kembali menjadi penyelamat dengan gol penyama kedudukan di masa injury time babak kedua. Tapi hasil imbang 1-1 itu tak cukup. City hanya mengoleksi 78 poin, tertinggal empat angka dari Arsenal yang duduk nyaman di puncak klasemen dengan satu pertandingan tersisa.
Dua Dekade Puasa, Satu Nama yang Bertahan: Mikel Arteta
Keberhasilan ini tak lepas dari keputusan berani manajemen Arsenal untuk tetap mempertahankan Mikel Arteta di tengah tekanan. Pelatih asal Spanyol itu perlahan membangun kembali fondasi tim. Bukan hanya soal taktik, Arteta berhasil menciptakan skuad yang solid dan memiliki kedalaman yang mumpuni setelah bertahun-tahun bekerja.
Para pemain muda seperti Bukayo Saka dan Martin Odegaard kini menjadi tulang punggung yang matang. Ditambah rekrutan cerdas di setiap bursa transfer, Arsenal akhirnya memiliki tim yang cukup tangguh untuk bersaing hingga akhir musim.
Final Liga Champions di Depan Mata: Keuntungan Besar Arsenal
Gelar Premier League ini juga datang di waktu yang sangat tepat. Arsenal dijadwalkan menghadapi Paris Saint-Germain di final Liga Champions pada Sabtu (30/5). Dengan titel liga sudah diamankan, Mikel Arteta bisa leluasa mengistirahatkan pemain andalan saat melawan Crystal Palace di akhir pekan.
Kondisi itu memastikan para pemain bintang The Gunners dalam keadaan fit penuh saat berlaga di partai puncak Eropa. Sebuah momentum yang nyaris sempurna bagi Arsenal untuk menutup musim dengan dua trofi bergengsi.
Ini bukan hanya tentang trofi. Ini tentang kesabaran, kepercayaan, dan akhirnya—sebuah kebangkitan yang sudah dinanti 22 tahun lamanya.