KALIMANTAN TIMUR — Hanya sekali skuad Garuda turun dalam laga persahabatan resmi — itu pun melawan sesama tim Liga 1, Bali United, pada 18 Juli lalu di Gianyar. Kemenangan 3-0 lewat gol Marc Klok, Dony Tri Pamungkas, dan Mitchell Baker tak cukup menjawab kebutuhan pengalaman internasional yang ideal. Pertanyaan soal minimnya agenda uji coba pun menghampiri John Herdman dalam jumpa pers jelang turnamen.
Alasan Herdman Tak Paksakan Uji Coba Berat
Pelatih asal Inggris itu menjelaskan bahwa jadwal Piala AFF 2026 jatuh pada periode pramusim klub-klub Eropa. Banyak pemain Timnas baru melewati musim panjang dan masih dalam fase latihan awal. Menambah laga internasional, menurut Herdman, justru rentan memicu cedera.
“Ada target menjuarai turnamen dan memenangkan pertandingan, tapi jangan sampai mengorbankan kesehatan dan keselamatan pemain. Itulah mengapa saya katakan ini proses langkah demi langkah,” ujarnya di Stadion Pakansari, Cibinong, Minggu (26/7).
Lelucon Brasil, Inggris, Argentina yang Jadi Sindiran Halus
Ketika wartawan kembali mendesak soal ketiadaan lawan berkelas, Herdman tersenyum. “Ya, kami sudah meminta Brasil, Inggris, dan Argentina, tapi mereka sedang agak sibuk,” katanya, disambut tawa ruang konferensi. Meski terdengar candaan, pernyataan itu menegaskan sulitnya menggelar uji tanding internasional di luar kalender FIFA.
Pelatih berusia 49 tahun itu justru mengandalkan laga internal merah-putih yang ia sebut “tidak terlalu bersahabat” untuk membangun intensitas. “Itu selalu menciptakan intensitas yang sehat,” jelasnya.
Ujian Perdana Lawan Kamboja Jadi Tolok Ukur
Tanpa agenda uji coba bergengsi, Herdman harus langsung mengukur ketajaman tim saat Piala AFF 2026 bergulir. Laga pembuka menjamu Kamboja di Stadion Pakansari, Senin (27/7), akan menjadi indikator awal kesiapan Garuda. Indonesia sendiri belum pernah menjuarai turnamen ini sejak edisi 2016.
Satu hal yang pasti: keputusan Herdman memprioritaskan kebugaran pemain di atas jumlah uji coba bisa terbukti tepat jika skuad tampil prima sepanjang turnamen. Atau sebaliknya, minimnya jam terbang internasional jadi celah yang dieksploitasi lawan-lawan Asia Tenggara.