SAMARINDA — Pemantauan DLH Kota Samarinda menunjukkan indeks kualitas udara bergerak naik-turun dalam sehari. Pada Rabu (2/9/2026), level tidak sehat terekam dari pukul 08.00 hingga 12.30 Wita, atau sekitar empat setengah jam.
Suwarso mengatakan kondisi berubah cepat. Satu waktu angka masih berada di kategori sedang, tak lama kemudian kembali naik ke level tidak sehat. “Perubahannya cukup cepat. Dalam satu waktu bisa berada di kategori sedang, lalu kembali meningkat menjadi tidak sehat. Jadi memang sangat fluktuatif,” ujarnya.
Selain stasiun di Jalan Harmonika, DLH juga memantau udara melalui alat yang berada di kawasan Bandara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto. Data dari perangkat itu diperbarui setiap jam dan menjadi dasar pemerintah menentukan langkah mitigasi.
Musim kemarau membuat sejumlah lahan di Samarinda kering dan mudah terbakar. Beberapa titik kebakaran lahan masih ditemukan, salah satunya di kawasan Jalan Mulawarman. Belum ada hujan dengan intensitas cukup membuat potensi munculnya titik api baru masih tinggi.
“Kondisi lahan saat ini memang lebih kering. Beberapa kejadian kebakaran lahan juga masih terjadi,” kata Suwarso. Sebaran asap dari titik api inilah yang kemudian memengaruhi kualitas udara di Kota Tepian.
Secara visual, lapisan kabut tipis mulai terlihat di sejumlah kawasan, terutama pagi dan siang hari. Warga yang berkendara tanpa pelindung mata mengaku merasakan perih. “Sudah mulai terlihat kabut tipis. Ada juga laporan dari masyarakat yang merasa mata pedih ketika berkendara tanpa kacamata atau pelindung mata,” ungkap Suwarso.
Keluhan itu diperkirakan akan bertambah bila kabut asap semakin pekat dan durasinya makin panjang.
DLH telah berkomunikasi dengan Dinas Kesehatan Kota Samarinda untuk memantau tren penyakit pernapasan. Hasilnya, ada peningkatan kasus ISPA meski angkanya belum tinggi. “Informasi dari Dinas Kesehatan memang ada peningkatan kasus ISPA. Kenaikannya belum terlalu tinggi, tetapi tetap menjadi perhatian dan harus diwaspadai,” jelas Suwarso.
Seluruh puskesmas dan fasilitas kesehatan diminta terus mengawasi perkembangan kasus. Wilayah yang kualitas udaranya tidak sehat akan diprioritaskan dalam penanganan.
Pemerintah menyiapkan langkah mitigasi bertingkat yang disesuaikan dengan tingkat dampak di tiap kecamatan. Daerah dengan kualitas udara tidak sehat dan dampak besar akan mendapat penanganan lebih dulu, termasuk pembagian masker hingga layanan pemeriksaan kesehatan bagi warga.
Suwarso menegaskan langkah itu akan dieksekusi setelah pemetaan selesai. “Nanti akan dipetakan berdasarkan wilayah. Jika kualitas udaranya tidak sehat dan dampaknya besar, akan dilakukan langkah penanganan seperti pembagian masker hingga pelayanan kesehatan bagi warga,” tegasnya.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan diminta lebih waspada. Mereka disarankan menggunakan masker saat keluar rumah dan mengurangi kegiatan di luar ruangan bila tidak ada keperluan mendesak.
“Bagi anak-anak dan lansia, sebaiknya menggunakan masker ketika berada di luar rumah. Jika tidak ada keperluan mendesak, lebih baik mengurangi aktivitas di luar ruangan,” pungkas Suwarso.