JAKARTA — Curah hujan yang anjlok drastis pada Agustus 2026 membuat permukaan air Sungai Mahakam surut. Balai Wilayah Sungai (BWS) IV Samarinda mencatat dampaknya paling terasa di wilayah hulu, sementara di hilir fluktuasi muka air relatif lebih stabil karena efek peredaman dari anak-anak sungai.
Menteri PU Dody Hanggodo menyatakan institusinya telah menginstruksikan jajaran BWS untuk memantau perkembangan debit secara berkelanjutan. Langkah ini merupakan bentuk mitigasi untuk mengantisipasi meluasnya dampak kekeringan terhadap aktivitas warga.
"Kami instruksikan Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk terus memantau kondisi Sungai Mahakam. Hal ini sebagai langkah mitigasi dampak kemarau," kata Menteri Dody dalam keterangan tertulis, Sabtu, 5 September 2026.
Transportasi Air Hanya Sampai Tering, Mahakam Ulu Terisolasi
Kepala BWS IV Samarinda Andri Rachmanto Wibowo menjelaskan penurunan muka air secara langsung memangkas jangkauan moda transportasi sungai. Kapal-kapal barang kini tidak bisa melanjutkan perjalanan melewati Kecamatan Tering menuju Kabupaten Mahakam Ulu.
"Dengan kondisi muka air sungai saat ini, transportasi air hanya dapat melayani hingga Kecamatan Tering, Kabupaten Kutai Barat," ujarnya.
Akibatnya, pendistribusian bahan pangan dan bahan bakar minyak (BBM) ke Mahakam Ulu mengalami kendala. Jalur darat menjadi satu-satunya akses distribusi dengan waktu tempuh yang panjang, tidak kurang dari dua kali dua puluh empat jam perjalanan.
Harga Kebutuhan Pokok Tertekan, PU Koordinasi dengan Pemda
Keterbatasan akses logistik ini berimbas langsung pada ketersediaan BBM di tingkat masyarakat. Andri menambahkan kondisi tersebut turut mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok di wilayah hulu Sungai Mahakam.
Kementerian PU melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) terus memantau perkembangan debit dan muka air. Pemantauan dilakukan bersama pemerintah daerah untuk meminimalkan dampak keterbatasan transportasi dan distribusi masyarakat.
Curah Hujan Anjlok dari 289 mm ke 25 mm
Secara umum, Kalimantan Timur memiliki curah hujan tahunan yang cukup tinggi, berkisar 3.600–3.700 milimeter. Namun, pola tersebut berubah drastis saat memasuki puncak musim kemarau pada Juli-Agustus 2026.
Data mencatat curah hujan pada Juli 2026 masih mencapai sekitar 289 milimeter. Angka itu kemudian merosot tajam menjadi hanya 25 milimeter pada Agustus 2026, memicu penurunan debit di sebagian besar aliran sungai.
Faktor pasang surut dan baseflow dari anak-anak Sungai Mahakam yang berasal dari sejumlah kabupaten lain membuat kondisi di bagian hilir tidak separah wilayah hulu. Meski begitu, pemerintah tetap mewaspadai potensi krisis air baku jika kemarau berkepanjangan.