SAMARINDA — Catatan kebakaran lahan di Ibu Kota Kalimantan Timur sepanjang 2026 menunjukkan skala yang mengkhawatirkan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda mengkonfirmasi bahwa area terdampak mencapai 220 hektare yang tersebar di 130 titik api hingga Selasa sore kemarin.
Kendati angka tersebut terbilang masif, Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso, memastikan seluruh titik api telah berhasil dipadamkan. Penanganan darurat itu melibatkan kolaborasi petugas BPBD, Damkar, relawan, PMI, hingga aparatur kelurahan dan kecamatan.
Mengapa Kebakaran Masih Menjadi Ancaman?
Meski seluruhnya telah dilumpuhkan, Suwarso menegaskan bahwa status siaga belum dicabut. Kondisi lapangan yang beragam dan sulit diprediksi membuat potensi api muncul kembali tetap terbuka lebar.
"Sekitar 130 titik panas, titik api ya, sampai dengan kemarin sore. Luasnya kurang lebih 220 hektare. Tapi perlu saya sampaikan di sini bahwa semua titik itu, 130 titik itu, semua bisa dipadamkan," ujarnya di Pos Komando Tanggap Darurat Bencana, Gedung BPBD Kota Samarinda, Jalan Sentosa Dalam, Rabu (2/9/2026).
Palaran Catat Kasus Terbanyak, Bantuas 16 Kejadian
Sebaran kebakaran tidak merata di seluruh kecamatan. Berdasarkan data BPBD, wilayah Kecamatan Palaran menjadi wilayah dengan kejadian kebakaran lahan tertinggi. Sementara itu, kawasan Bantuas tercatat mengalami 16 kejadian kebakaran dalam periode yang sama.
Kendala Lapangan: Selang 30 Roll Tak Cukup Menjangkau Titik Api
Proses pemadaman bukan tanpa hambatan. Suwarso mengungkapkan kendala utama adalah keterbatasan akses menuju sumber air, terutama di lokasi yang jauh dan berada di area terdalam.
"Yang paling sulit itu kalau tidak ada titik air dan daerah terdalam. Itu kita yang kadang-kadang sudah membuka selang roll, 20 sampai 30 roll itu nggak menjangkau," jelasnya.
Dalam situasi tersebut, petugas terpaksa menahan proses pemadaman sementara. Langkah ini diambil sebagai strategi agar api tidak meluas, sambil terus melakukan pemantauan ketat hingga kondisi memungkinkan untuk kembali diserang.
"Ini semata-mata strategi, bukan pembiaran. Dan alhamdulillah selama ini sih bisa kita padamkan semuanya," tuturnya.
Medan Berat di Makroman dan Betapus
Kondisi geografis turut memperlambat mobilisasi petugas. Suwarso mencontohkan wilayah Makroman yang memiliki akses berat bagi kendaraan roda empat, menyulitkan pengiriman air ke titik kebakaran.
Di kawasan Betapus, tantangan berbeda muncul. Area rawa dan rerumputan tinggi membatasi jarak pandang antarpersonel. Petugas kerap kehilangan kontak visual dengan rekan di depannya meski berada dalam satu regu.
"Kalau teman-teman ke lapangan mungkin kita tidak bisa melihat teman-teman yang di depan. Tapi kita tahu kalau ada orang di depan, dengan selang yang bergerak ini aja yang kita telusuri. Tapi fisik orangnya nggak kelihatan," ungkapnya.
Lama waktu pemadaman pun bervariasi, berkisar antara 30 menit hingga lima jam per titik. Durasi tersebut sangat bergantung pada luasan area dan tingkat kesulitan medan yang dihadapi di lapangan.
Suwarso menegaskan komitmen BPBD untuk tetap bersiaga. Kesiapsiagaan ini dilakukan sebagai langkah antisipasi dini, mengingat musim kemarau belum sepenuhnya berakhir dan potensi munculnya titik api baru masih mengintai wilayah Samarinda.