Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seluas 572,83 hektare selama periode 1-25 Agustus 2026. Luasan tersebut tersebar di kawasan hutan produksi hingga area penggunaan lain (APL) di sejumlah kabupaten, dengan Kabupaten Berau dan Kutai Barat sebagai wilayah dengan catatan luasan terbesar.
SAMARINDA — Penanganan karhutla di Kalimantan Timur dalam tiga pekan terakhir menunjukkan pola yang tidak biasa. Dari total 572,83 hektare lahan yang terbakar, porsi terbesar justru berada di luar kawasan hutan, mencapai 307,3 hektare, sementara kawasan hutan yang terdampak seluas 265,54 hektare.
Koordinator Karhutla Dinas Kehutanan Provinsi Kaltim, Rahmadi, menyebut kebakaran di area penggunaan lain (APL) hampir selalu menyertai setiap kejadian di kawasan hutan. "Data tersebut menunjukkan bahwa karhutla tidak hanya terjadi di kawasan hutan, tetapi juga cukup besar di wilayah nonkawasan hutan," ujarnya di Samarinda, Kamis.
Kebakaran Terluas di Hutan Produksi Capai 230 Hektare
Jika dirinci berdasarkan fungsi kawasan, kebakaran paling luas terjadi pada hutan produksi (HP) dengan total 230,85 hektare. Angka ini jauh melampaui dua kategori lainnya, yakni hutan produksi terbatas (HPT) yang hanya 7,89 hektare dan kawasan hutan konservasi (HK) seluas 26,8 hektare.
Kondisi itu menjadikan wilayah kerja Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) sebagai garda terdepan dalam pengendalian api. Di Kabupaten Berau, tiga KPHP mencatat luasan yang signifikan dengan rincian sebagai berikut:
- KPHP Berau Utara: 86,6 hektare di HP dan 96,7 hektare di APL
- KPHP Berau Barat: 6 hektare di HP dan 49,5 hektare di APL
- KPHP Berau Tengah: 9,3 hektare di HP dan 23,1 hektare di APL
Kutai Barat Catat Titik Api Terbesar di Lahan Non-Hutan
Kabupaten Kutai Barat justru mencatat angka yang lebih ekstrem pada lahan non-hutan. Di wilayah kerja KPHP Damai, kebakaran melanda 22 hektare kawasan HP, tetapi mencapai 155 hektare di APL. Pola serupa terjadi di KPHP Manor Bulatn dengan 55 hektare di HP dan 58 hektare di APL.
Rahmadi menjelaskan bahwa meluasnya api di luar kawasan hutan menjadi perhatian serius, terutama karena berimpitan dengan aktivitas masyarakat. Faktor cuaca kering yang melanda Kaltim dalam beberapa pekan terakhir disebutnya memperbesar potensi titik api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
"Pengendalian karhutla membutuhkan sinergi antara pemerintah, aparat, pengelola kawasan, dunia usaha, dan masyarakat untuk mencegah titik api berkembang, agar tidak menjadi kebakaran yang lebih luas," kata Rahmadi.
Penanganan karhutla sendiri melibatkan Dinas Kehutanan bersama dinas pemadaman, badan penanggulangan bencana, serta unsur masyarakat di lapangan. Hingga 25 Agustus, upaya pemadaman masih terus berlangsung di sejumlah titik yang tersebar di dua kabupaten dengan luasan terdampak terbesar tersebut.