Pencarian

Komunitas Pelayang se-Kaltim Gelar Kopdar Perdana di Tenggarong, 60 Layangan Hiasi Langit Mangkurawang

Minggu, 23 Agustus 2026 • 01:35:31 WIB
Komunitas Pelayang se-Kaltim Gelar Kopdar Perdana di Tenggarong, 60 Layangan Hiasi Langit Mangkurawang
Puluhan layangan dari berbagai komunitas pelayang se-Kalimantan Timur memenuhi langit Mangkurawang Darat, Tenggarong, dalam kopdar perdana yang digelar untuk memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia.

TENGGARONG — Area persawahan di Jalan Datawarni RT 1, Mangkurawang Darat, berubah menjadi titik kumpul para penggemar layangan gapangan dari Bontang, Samarinda, dan Kukar. Mereka datang membawa layangan masing-masing untuk diterbangkan bersama dalam rangka memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia.

Ketua Panitia, Andri, mengatakan kegiatan ini sengaja dirancang tanpa unsur perlombaan. Fokus utamanya adalah manjer bersama—istilah lokal untuk membiarkan layangan terbang tinggi—sekaligus mempererat tali silaturahmi antarkomunitas.

"Kalau kegiatannya cuma kopdar bersama saja, manjer bareng. Silaturahmi. Manjer itu layangan dibiarkan terbang," jelasnya kepada wartawan di lokasi.

Manjer Bareng hingga Pagi Hari

Andri menyebutkan, para peserta yang datang dari daerah jauh seperti Bontang dan Samarinda bahkan berencana menginap di lokasi. Agenda tidak hanya berhenti saat sore hari, melainkan berlanjut hingga malam.

"Ini agendanya sampai malam, mungkin yang jauh-jauh tembus sampai pagi nginep di sini. Insya Allah nanti malam manjer bersama. Pokoknya anginnya bagus, terus manjer," ujarnya.

Kegiatan ini menjadi yang pertama kalinya mempertemukan pelayang dari berbagai kabupaten/kota di Kalimantan Timur di Tenggarong. Para penggemar layangan di Kukar sendiri tergabung dalam komunitas Manut Pusat Pelayang Kota Raja.

Silaturahmi yang Selama Ini Hanya Lewat Grup WhatsApp

Salah satu peserta dari Pelayang Kota Bontang, Edi, mengaku antusias mengikuti kegiatan ini. Menurutnya, momen bertemu langsung sangat dinantikan karena selama ini komunikasi antarpelayang lebih banyak dilakukan melalui media sosial.

"Nah ini ketemu langsung, jadi kita akrab. Biasanya kita kan lewat media sosial, lewat grup WhatsApp. Silaturahminya saling spill layangan masing-masing di daerahnya. Nah, ini ketemu langsung," tuturnya.

Edi menambahkan, meski cuaca kadang tidak menentu, hal itu tidak menyurutkan semangat para peserta. "Intinya silaturahmi. Masalah cuaca itu urusan yang di atas. Kita sudah prediksi, tapi cuacanya kadang tidak menentu dengan kondisi seperti ini. Setidaknya kita sudah ngumpul sesama sehobi se-Kaltim," katanya.

Layangan sebagai Warisan Budaya dari Zaman Kerajaan

Bagi Edi, bermain layangan bukan sekadar hobi. Pria asal Blitar, Jawa Timur, ini menjelaskan bahwa tradisi menerbangkan layangan sudah mengakar kuat di masyarakatnya secara turun-temurun.

"Kalau kami dari orang Jawa, layangan ini adalah tradisi. Kalau di daerah kami, khususnya saya di Blitar, setiap rumah pasti ada. Ini hiburan masyarakat ketika kemarau tiba," ungkapnya.

Ia menilai daya tarik layangan terletak pada kemampuannya menjangkau semua kelompok usia. Dari anak-anak sekolah dasar hingga orang tua yang sudah memiliki cucu, semua bisa menikmati aktivitas ini.

"Anak muda sampai anak kecil, SD, SMP, sampai yang tua-tua yang sudah punya cucu juga ada yang di sini main. Itu keindahannya di situ," ucapnya.

Target Jadi Agenda Rutin Tahunan

Andri berharap kopdar ini tidak berhenti di Tenggarong. Rencananya, kegiatan serupa akan digelar rutin setiap tahun dengan lokasi berpindah-pindah ke daerah lain di Kalimantan Timur.

"Insyaallah ini rutinan setahun sekali. Kalau se-Kaltim nanti mungkin gantian tempatnya bisa di Bontang, bisa di Bukuan. Kalau hari ini kan di sini, di Kota Raja," katanya.

Edi menambahkan, dengan adanya agenda rutin ini, komunitas pelayang se-Kaltim memiliki wadah untuk terus berkumpul dan mempererat hubungan. Baginya, layangan juga menjadi bagian dari pelestarian budaya yang sudah ada sejak zaman kerajaan.

"Jadi menjadi bagian dari pelestarian kebudayaan kita. Layangan ini kalau dibilang tipe layangannya sendiri, sudah tua. Dari zaman kerajaan sudah ada layangan," pungkasnya.

Follow halobontang.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: pusaranmedia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks