KALIMANTAN TIMUR — Kepastian ini diumumkan Red Bull di sela-sela akhir pekan balapan Grand Prix Belanda, Jumat (23/8). Verstappen, yang kontrak lamanya sebenarnya masih berlaku hingga 2028, kini terikat lebih lama lagi dengan tim asal Austria tersebut.
Pernyataan mengejutkan justru keluar dari mulut Verstappen dalam konferensi pers setelah pengumuman tersebut. "Saya lebih dekat untuk pensiun daripada pindah tim," ujarnya, menggambarkan betapa beratnya keputusan yang dia ambil di tengah gejolak musim ini.
Kekecewaan pada Regulasi Mesin Hybrid Baru
Kebimbangan Verstappen bukan muncul tanpa sebab. Tiga balapan pertama musim ini, tepatnya setelah Grand Prix Jepang di Suzuka, frustrasi pembalap 26 tahun itu memuncak. Dia mengeluhkan perilaku mesin hybrid generasi baru yang dinilainya justru merusak esensi balapan.
Verstappen, yang dikenal sebagai pembalap murni, merasa terganggu dengan sistem pemulihan energi yang membuat mobil kehilangan tenaga hingga 470 bhp di trek lurus. Kondisi ini memaksa pembalap harus pintar mengatur energi, bukan murni menguras kemampuan mobil di lintasan.
"Apakah ini masih layak diperjuangkan? Atau lebih baik saya menikmati waktu di rumah bersama keluarga dan bertemu teman-teman?" tuturnya, merenungkan masa depannya di ajang jet darat tersebut.
Balapan 24 Jam Nurburgring yang Mengubah Perspektif
Momen penting terjadi pada Mei lalu. Verstappen turun di ajang Nurburgring 24 Hours menggunakan Mercedes AMG GT. Penampilannya di sana disebut sensasional, membawa mobil dari posisi 10 ke posisi terdepan pada stint pertamanya sebelum akhirnya gagal finis karena masalah driveshaft.
Pengalaman itu menjadi pembanding yang kontras bagi Verstappen. Dia merasakan kembali sensasi balapan yang sesungguhnya, sesuatu yang menurutnya perlahan hilang di F1 akibat regulasi mesin yang terlalu kompleks.
Perubahan Regulasi dan Jalan Tengah F1
Keluhan Verstappen dan pembalap lain akhirnya didengar. Formula 1 dan FIA mulai bergerak, dengan rencana penyesuaian aturan dalam dua tahun ke depan untuk meningkatkan porsi tenaga dari mesin pembakaran internal. Perbandingan tenaga listrik dan bensin akan diubah dari 53:47 menjadi 60:40.
Perubahan ini diharapkan mengurangi masalah kekurangan energi yang menjadi keluhan utama para pembalap. Verstappen pun mengakui ada perbaikan suasana dalam beberapa balapan terakhir sebelum jeda musim panas.
"Setelah beberapa balapan pertama, saya bilang ke Laurent (Mekies, prinsipal Red Bull), jangan tanya soal masa depan. Saya sendiri tidak tahu ingin bertahan atau tidak," ungkap Verstappen. "Saya suka balapan. Saya punya diskusi yang sangat baik dengan F1 dan FIA. Saya pikir kami perlahan bergerak menuju sesuatu yang lebih baik."
Isyarat Menarik di Balik Kontrak Baru
Menariknya, Verstappen memberi sinyal bahwa kontrak barunya ini bukanlah harga mati. Dia membuka peluang untuk meninjau kembali masa depannya ketika regulasi mesin baru, yang kabarnya akan menggunakan V8 aspirasi natural, diperkenalkan paling lambat 2031.
"Dengan tahun yang saya tandatangani, itu membuka pintu lagi. Mungkin ketika V8 datang, saya bisa melihat lagi kesempatan itu," katanya, merujuk pada wacana FIA yang ingin kembali ke era mesin V8 tanpa hybrid.
Keputusan FIA untuk mendorong regulasi baru tersebut dinilai sebagian pihak sebagai langkah mundur. Namun bagi Verstappen, ini adalah secercah harapan bahwa F1 akan kembali ke akar balapan yang dia cintai.