KALIMANTAN TIMUR — Proyeksi tersebut disampaikan Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual di Jakarta, Selasa (4/8/2026). Menurutnya, ruang fiskal yang kian terbatas membuat pemerintah tidak bisa lagi mengandalkan belanja negara sebagai motor utama, sehingga peran investasi swasta menjadi krusial untuk menjaga momentum pertumbuhan pada paruh kedua tahun ini.
“Investasi diharapkan nantinya akan berdampak ke daya beli (via rekrutmen tenaga kerja), sehingga bisa mendorong belanja masyarakat di tengah ruang fiskal yang terbatas,” terang David.
Defisit Neraca Barang Menekan Kontribusi Ekspor
David menjelaskan, pergeseran struktur neraca barang dari surplus menjadi defisit menjadi sinyal yang tidak bisa diabaikan. Kondisi ini menahan laju ekspor neto yang sebelumnya menjadi penyangga utama pertumbuhan pada kuartal I-2026.
Di sisi lain, komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi diperkirakan menjadi pendorong utama. Sejumlah program pemerintah yang tengah berjalan dinilai mulai memberikan efek berganda terhadap realisasi belanja modal baik dari BUMN maupun swasta.
Pemerintah Yakin Semester II Lebih Kuat
Optimisme berbeda datang dari Kementerian Keuangan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya memperkirakan ekonomi Indonesia mampu tumbuh di kisaran 5,4% pada kuartal II-2026, lebih tinggi dari proyeksi BCA.
Pemerintah meyakini laju pertumbuhan akan meningkat pada semester II tahun ini. Keyakinan tersebut ditopang oleh terjaganya likuiditas perbankan serta penerapan kebijakan fiskal yang prudent dalam mengelola belanja negara di tengah ketidakpastian global.
Kebijakan Investasi Jadi Kunci Semester II
Selisih proyeksi antara pemerintah dan ekonom swasta menunjukkan tingginya ketidakpastian pada kuartal berjalan. David menegaskan, kebijakan yang mampu mendorong investasi swasta menjadi pekerjaan rumah paling mendesak yang harus dieksekusi pemerintah sebelum memasuki semester II-2026.
Tanpa insentif dan kepastian regulasi yang jelas, realisasi investasi berisiko tertahan. Padahal efek berantai dari investasi terhadap penciptaan lapangan kerja dan konsumsi rumah tangga dinilai menjadi solusi paling realistis untuk menggantikan peran belanja negara yang fiskalnya mulai terbatas.
Investasi mengandung risiko.