SAMARINDA — Industri perhotelan di Kalimantan Timur kini merasakan dampak langsung dari kebijakan efisiensi anggaran yang digulirkan pemerintah pusat. Tingkat okupansi hotel disebut anjlok hingga 50 persen, angka yang lebih rendah dari capaian di periode yang sama pada tahun lalu. Kondisi ini memicu kekhawatiran pelaku usaha karena sektor perhotelan selama ini sangat bergantung pada aktivitas pemerintahan.
Pasar Pemerintah Penyumbang Utama Pendapatan Hotel
Selama bertahun-tahun, kegiatan kedinasan seperti rapat koordinasi, pelatihan, dan seminar menjadi sumber pemasukan utama bagi hotel-hotel di Kaltim. Ketua DPD Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Kaltim, Hendri Kurniawan, mengakui bahwa berkurangnya agenda pemerintah langsung memukul pendapatan mereka.
“Ketika kegiatan-kegiatan itu berkurang, tingkat okupansi hotel juga ikut menurun. Sekarang kami harus mencari pasar penggantinya,” ujarnya kepada awak media di Samarinda, beberapa hari lalu.
Strategi Bertahan: Beralih ke Pasar Non-Pemerintah
Untuk menjaga keberlangsungan usaha, para pelaku industri perhotelan mulai membidik segmen pasar baru. Mereka kini gencar menawarkan jasa untuk berbagai kegiatan sosial dan komunitas, seperti pesta pernikahan, perayaan ulang tahun, pertemuan paguyuban, hingga penyelenggaraan event berskala nasional.
Namun, berbagai upaya tersebut belum mampu mengembalikan tingkat hunian seperti sedia kala. Okupansi rata-rata masih bertahan di angka 50 persen, atau bahkan sedikit di bawahnya.
Efek Domino ke Ekonomi Daerah: Petani dan UMKM Ikut Terdampak
Hendri mengingatkan bahwa penurunan okupansi hotel bukan hanya soal berkurangnya pendapatan pengusaha penginapan. Lebih dari itu, ada efek domino yang mengancam ekosistem ekonomi di sekitarnya. Operasional sebuah hotel melibatkan banyak sektor pendukung, mulai dari petani, peternak, pemasok bahan pangan, hingga pelaku UMKM.
“Kalau hotel sepi, semuanya ikut terdampak. Jadi yang harus dilihat bukan hanya hotelnya, tetapi juga ekosistem ekonomi yang ada di belakangnya,” jelas Hendri.
Harapan pada Event Nasional dan Regional
Di tengah tekanan ini, para pengusaha hotel berharap pemerintah pusat maupun daerah bisa menggairahkan kembali sektor pariwisata dan perhotelan. Salah satu cara yang diyakini efektif adalah dengan memperbanyak penyelenggaraan event berskala nasional maupun regional di Kalimantan Timur.
“Karena itu, kami berharap pemerintah dapat memperbanyak penyelenggaraan event nasional maupun regional di Kalimantan Timur,” kata Hendri. Menurutnya, event besar tidak hanya menguntungkan hotel, tetapi juga memberikan efek berganda bagi perekonomian masyarakat luas.