KALIMANTAN TIMUR — Babak perempat final Piala Dunia 2026 baru saja bergulir, tapi euforia di pasar tiket justru meredup. Data dari platform sekunder TickPick menunjukkan harga masuk termurah (get-in price) untuk laga Spanyol vs Belgia merosot dari US$2.950 (sekitar Rp53 juta) menjadi hanya US$1.200 (Rp21 jutaan) pada Selasa siang waktu setempat. Penurunan nyaris 60 persen ini menjadi indikator jelas lesunya minat penonton.
Dua Magnet Utama Turnamen Pulang Lebih Cepat
Skenario ideal yang membayangkan duel AS kontra Portugal di perempat final sirna total. Timnas AS harus mengakui keunggulan Belgia dengan skor telak 1-4, sementara Portugal dihentikan Spanyol 0-1. Kekalahan ini memupus harapan penyelenggara yang mengandalkan daya tarik Ronaldo—yang turnamen ini menjadi penutup karier ikoniknya—dan antusiasme publik tuan rumah untuk mendongkrak permintaan tiket.
Co-CEO TickPick, Brett Goldberg, mengonfirmasi bahwa harga awal tiket perempat final memang dibangun di atas asumsi AS dan Meksiko akan lolos. "Ketika mereka kalah dalam dua hari berturut-turut di babak 16 besar, terjadi penurunan permintaan yang langsung dan signifikan untuk pertandingan perempat final masing-masing," ujarnya kepada CNN.
Gugurnya Tiga Tuan Rumah, Pendapatan Bar Anjlok 50 Persen
Bukan hanya tiket, bisnis lokal pun ikut merasakan dampaknya. Kekalahan Meksiko dari Inggris pada Minggu (5/7) memicu penurunan harga tiket perempat final mereka hingga 45 persen—dari US$4.000 menjadi US$2.000. Dengan tersingkirnya Kanada, AS, dan Meksiko sekaligus, turnamen kehilangan seluruh perwakilan tuan rumah di fase gugur.
Jaringan bar Tom's Watch Bar yang memiliki 18 cabang memprediksi pendapatan pada hari pertandingan Piala Dunia akan merosot hingga 50 persen. Sebab, laga yang menampilkan AS dan Meksiko selama ini menjadi pendongkrak utama omzet mereka. Tanpa kedua tim, pengunjung lokal kehilangan alasan utama untuk meramaikan fan zone dan sports bar.
FIFA Raup Cuan, Kota Tuan Rumah Justru Tekor
Ironisnya, di tengah kerugian pelaku usaha lokal, FIFA justru diuntungkan besar. Organisasi sepak bola dunia itu diproyeksikan mengantongi pendapatan sekitar US$8,9 miliar (Rp160 triliun-Rp300 triliun) dari Piala Dunia 2026. Sebaliknya, 11 kota tuan rumah di AS diperkirakan menghadapi defisit kolektif lebih dari US$250 juta (Rp4,5 triliun).
Ini pertama kalinya FIFA mengelola langsung turnamen tanpa komite penyelenggara lokal. Mereka menguasai seluruh sumber pendapatan—dari hak siar, sponsor, tiket, hingga merchandise. Sementara itu, pemerintah kota dan negara bagian menanggung biaya keamanan, transportasi, renovasi stadion, hingga penyelenggaraan kawasan fan zone.
Ekonom olahraga Victor Matheson dari College of the Holy Cross menjelaskan bahwa uang tiket tidak berputar di ekonomi lokal. "Ketika saya membayar US$400 untuk tiket Piala Dunia, seluruh uang itu masuk ke FIFA. Uang itu tidak masuk ke pelaku usaha lokal, sehingga juga tidak berputar kembali di ekonomi setempat," katanya. Ia juga menilai banyak proyeksi dampak ekonomi turnamen terlalu optimistis karena wisatawan Piala Dunia sering kali hanya menggantikan wisatawan reguler.