KALIMANTAN TIMUR — Shin Tae-yong resmi diperkenalkan sebagai nahkoda anyar Persija Jakarta. Namun, sebelum bursa transfer bergulir, pelatih asal Korea Selatan itu sudah membeberkan standar tinggi yang akan ia terapkan. Dari pernyataannya yang dikutip dari laman resmi I.League, Kamis, terlihat jelas bahwa ia sedang mencari pemain dengan karakter baja, bukan sekadar bintang lapangan.
Mentalitas Pengorbanan Jadi Syarat Utama
STY menekankan bahwa kerja kolektif dan intensitas adalah fondasi sepak bola modern. Ia tidak akan mentolerir pemain yang merasa dirinya spesial dan enggan bekerja keras untuk tim.
"Kami butuh pemain yang mau berkorban untuk tim. Pemain yang merasa ‘siapa saya’ dengan pundak yang kaku (sombong), tidak mau berkorban untuk tim, hanya berdiri diam dan tidak berlari keras di lapangan. Pemain-pemain seperti itu tidak akan saya pilih," tegas STY dalam pernyataannya.
Bagi pelatih yang pernah menukangi Timnas Indonesia ini, pengorbanan bukan sekadar omongan. Indikator paling jelas adalah saat seorang pemain, termasuk striker, rela turun ke area pertahanan sendiri untuk merebut bola.
Filosofi 'Turun ke Kotak Penalti Sendiri' untuk Striker
STY memberikan contoh konkret tentang bentuk pengorbanan yang ia maksud. Ia ingin setiap pemain, tanpa memandang posisi, memiliki kesadaran untuk membantu tim saat kehilangan bola.
"Maksud dari mau berkorban untuk tim adalah meskipun dia berada di posisi paling depan (striker), ketika dia kehilangan bola, dia mau turun sampai ke area penalti kami sendiri untuk melakukan tekel, merebut bola, dan membawanya lagi," ucapnya.
Ia menambahkan, aksi heroik seperti itu tidak harus terjadi setiap saat. Namun, kemunculannya satu atau dua kali dalam pertandingan dinilai cukup untuk membakar semangat seluruh tim dan menciptakan soliditas yang sulit ditembus lawan.
Membangun Tim di Atas Visi Kolektif
Lebih dari sekadar kemampuan individu, STY percaya bahwa kekuatan sebuah tim lahir dari kesamaan visi. Ia ingin Persija Jakarta musim depan dihuni oleh pemain yang memiliki kesadaran kolektif untuk berjuang bersama, bukan sekadar kumpulan individu yang mencari sorotan.
Dengan pernyataan ini, STY secara tidak langsung memberikan gambaran bahwa proses perburuan pemain baru akan sangat selektif. Pemain dengan ego tinggi atau malas bergerak tanpa bola dipastikan tidak akan masuk dalam rencananya untuk membangun Persija yang lebih garang di musim depan.