Awalnya, bintang film dewasa Willow Ryder mengira kehadiran Clavicular—nama asli Braden Peters—di pesta bertajuk Pillow Talk adalah peluang untuk memperluas audiens. Ia memperkenalkan diri tanpa tahu bahwa streamer dengan jutaan pengikut di Kick itu dikenal karena kerap merendahkan perempuan dan pekerja seks.
Dalam rekaman yang beredar, Clavicular terlihat menyerang seorang wanita yang sedang menggiring pria bertali, menyebutnya "menjijikkan". Ia juga menghardik kreator dewasa lain yang memperkenalkan nama panggungnya, menuduhnya "mengarahkan anak-anak ke pornografi" dan menyebutnya "pedofil". Ryder mengatakan kejadian itu membuat salah satu korban menangis.
Penyelenggara Acara Justru Membela Streamer
Saat Ryder melapor ke pembawa acara Pillow Talk, Ryan Pownall, ia justru dituduh membawa "vibe buruk". Pownall mengatakan Clavicular adalah "orang paling terkenal di ruangan ini" dan menolak campur tangan. Pownall tidak menanggapi permintaan komentar.
Ryder kemudian memposting kecaman di X yang ditonton lebih dari 817.000 kali. "Membiarkan wanita dihina, diteriaki, dan ditempatkan di lingkungan yang tidak aman demi popularitas itu payah," tulisnya. Pownall akhirnya meminta maaf di Instagram dan membatalkan penampilan yang direncanakan di klub yang dipromosikan Clavicular.
Ironi di Balik Penghinaan: Clavicular Juga Jalankan Bisnis OnlyFans
Kemarahan meluas ketika terungkap bahwa Clavicular disebut-sebut menjalankan agensi OnlyFans sendiri dan menampilkan model dalam siarannya. Ia secara terbuka mencemooh pekerja seks, namun diam-diam meraup untung dari industri yang sama. Seorang sumber dekat Clavicular mengonfirmasi ia tengah menjajaki pembentukan agensi, tetapi ragu mempromosikannya karena basis penggemarnya membenci pekerja seks.
Fenomena ini bukan kasus terisolasi. Kreator dewasa Ophelia Fae mengatakan mustahil berkarya di ranah digital tanpa bersinggungan dengan "manosphere"—komunitas streamer dan podcaster yang kerap merendahkan perempuan. Banyak pekerja seks dewasa justru rela tampil di acara seperti Fresh and Fit atau Whatever demi visibilitas, meski sadar akan risiko direndahkan.
Budaya "Clout" yang Mengorbankan Martabat
Insiden di Miami hanyalah puncak gunung es dari praktik di mana streamer pria menggunakan pekerja seks sebagai alat konten. Mereka mengeksploitasi kerentanan kreator yang butuh eksposur, lalu membalikkan narasi untuk menghakimi. Ironisnya, platform seperti Kick dan Instagram memberi ruang subur bagi konten semacam ini karena algoritma menghargai kontroversi.
Bagi pekerja seks Indonesia yang juga bergantung pada platform global, insiden ini menjadi pengingat akan risiko serupa. Tanpa regulasi yang jelas dari platform, mereka terus terjebak antara kebutuhan akan visibilitas dan ancaman perundungan yang terstruktur—dari sesama kreator yang justru memanfaatkan mereka untuk popularitas.