Bending Spoons Akuisisi Miro Rp 22,4 Triliun, Valuasi Anjlok 92% dari Puncak 2021

Penulis: Chandra Kusuma  •  Kamis, 10 September 2026 | 21:49:01 WIB
Bending Spoons resmi mengakuisisi Miro senilai US$1,36 miliar atau setara Rp 22,4 triliun.
Miro Rp 22,4 Triliun, Valuasi Anjlok 92% dari Puncak 2021 LEAD: Bending Spoons resmi mengakuisisi platform kolaborasi visual Miro dengan nilai tunai US$1,36 miliar, setara Rp 22,4 triliun. Nilai ekuitasnya US$1,79 miliar atau Rp 29,5 triliun, jauh di bawah valuasi Miro akhir 2021 yang menyentuh US$17,5 miliar. ISI:

KALIMANTAN TIMUR — Bending Spoons resmi mengakuisisi Miro, platform papan tulis digital yang populer di kalangan tim produk dan desainer. Nilai tunai yang dibayarkan US$1,36 miliar atau setara Rp 22,4 triliun, dengan nilai ekuitas US$1,79 miliar atau sekitar Rp 29,5 triliun.

Angka itu 92% lebih rendah dari valuasi puncak Miro pada akhir 2021 yang menyentuh US$17,5 miliar. Koreksi ini menandai babak baru konsolidasi industri SaaS global yang kini diincar perusahaan asal Italia tersebut.

Dari RealtimeBoard hingga AI Innovation Workspace

Miro didirikan pada 2011 dengan nama RealtimeBoard. Awalnya, produk ini hanya alat papan tulis daring sederhana. Momentum besar datang saat pandemi memaksa perusahaan di seluruh dunia beralih ke kerja jarak jauh.

Karyawan saat itu mencari cara meniru pengalaman berkolaborasi di papan tulis fisik. Miro bergerak cepat membangun platform yang terintegrasi dengan lebih dari 250 aplikasi. Perusahaan juga menjalin kemitraan strategis dengan Atlassian, Cisco, Microsoft, dan Zoom.

Pengguna diberi keleluasaan membangun integrasi sendiri dan menyesuaikan produk sesuai kebutuhan tim. Kini, Miro memposisikan diri sebagai "AI innovation workspace" yang menyediakan asisten AI untuk papan tulis, alur kerja AI, alat prototipe, dan konektor AI.

Konektor itu menarik konteks dari platform seperti GitHub, Jira, dan Slack.

Pertumbuhan Pengguna dan Kinerja Keuangan Terkini

Pada 2022, basis pengguna Miro melonjak dari lima juta menjadi sekitar 30 juta dalam dua tahun. Pelanggan berbayar tumbuh 550%, faktor yang kemungkinan besar mendorong valuasi raksasa saat itu.

Pertumbuhan tidak berhenti, meski lajunya melambat. Kini Miro memiliki lebih dari empat juta pengguna berbayar dan 100 juta total pengguna. Bending Spoons mengungkapkan Miro membukukan pendapatan berulang tahunan sekitar US$600 juta atau setara Rp 9,9 triliun.

Sebanyak 90% pendapatan itu berasal dari segmen bisnis dan enterprise. Perusahaan juga memiliki kas bersih sekitar US$435 juta atau sekitar Rp 7,2 triliun dan sudah mencetak laba. Meski demikian, valuasinya tetap terpangkas drastis.

Tekanan Kompetisi dan Efisiensi Jadi Pemicu

Setelah 2022, perusahaan mulai mengetatkan anggaran dengan memangkas aplikasi dan lisensi ganda. Miro bersaing dengan rival yang jauh lebih bermodal, seperti Canva, Figma, dan Microsoft, di ruang kolaborasi kerja. Bisnis pun cenderung memilih paket produk terintegrasi ketimbang alat kolaborasi terpisah.

Miro yang sempat memiliki sekitar 1.200 karyawan pada 2022 melakukan dua kali pemutusan hubungan kerja. Sebanyak 119 staf diberhentikan pada Februari 2023, dan dilaporkan 275 orang lagi pada Oktober 2024.

Pola Akuisisi Bending Spoons di Pasar SaaS

Bending Spoons tampaknya memanfaatkan perubahan lanskap ini. Perusahaan asal Italia itu memburu perusahaan SaaS besar dan dikenal yang dihargai pada 2021 seolah akan menjadi raksasa software. Kini, perusahaan-perusahaan itu tumbuh lebih lambat dengan pendapatan berulang yang tetap substan dan basis pengguna mapan.

Miro mirip dengan Airtable, yang divalidasi lebih dari US$11 miliar pada 2021, tetapi dijual ke Bending Spoons seharga US$1,28 miliar bulan lalu. Pola yang sama terlihat: akuisisi dengan diskon besar dari harga puncak.

Yang menarik, Miro sebenarnya tidak membutuhkan uang tunai. Pertanyaannya, mengapa dewan dan investor Miro setuju menjual di harga tersebut? Apakah kepercayaan pada perusahaan SaaS untuk bisa melantai di bursa atau menemukan exit yang sebanding sudah serendah itu?

Bagi pelaku bisnis digital dan investor startup di Indonesia, kasus Miro menjadi pengingat bahwa valuasi tinggi tidak selalu bertahan. Pendapatan berulang, profitabilitas, dan efisiensi operasional kini menjadi ukuran yang lebih diperhitungkan dalam lanskap pendanaan global.

Reporter: Chandra Kusuma
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top