Habib Abdul Qodir bin Yahya Al Habsy Safari Dakwah di Kaltim, Ajak Warga Tobat dan Jaga Silaturahmi Saat Kemarau Panjang

Penulis: Bramantyo Wicaksono  •  Kamis, 10 September 2026 | 11:46:31 WIB
Habib Abdul Qodir bin Yahya Al Habsy tiba di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan, disambut Ustadz Choliqul Anwar dan rekan penjemput.

SAMARINDA — Kedatangan Al Habib Abdul Qodir bin Yahya Al Habsy di Bandar Udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan, disambut Ustadz Choliqul Anwar bersama rekan-rekan penjemput. Ulama muda asal Surakarta itu menempuh penerbangan dari Yogyakarta International Airport. Habib Qodir dikenal sebagai figur yang ditempa pendidikan Pondok Pesantren Sunniyah Salafiyah, Pasuruan, Jawa Timur.

Kehadirannya di Tanah Etam langsung disambut antusiasme umat melalui rangkaian kegiatan dakwah dan peringatan maulid. Safari menyentuh sejumlah titik di Samarinda dan sekitarnya, termasuk Desa Ukung Jembayan, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Pesan Cinta kepada Rasulullah di Majelis Maulid Loa Kulu

Di hadapan ratusan jamaah di Desa Ukung Jembayan, Rabu (2/9/2026), Habib Qodir menyampaikan tausiah tentang esensi kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Ia menyebut majelis maulid sebagai jalan mendekatkan diri kepada Rasulullah.

"Majelis Maulid Nabi ini adalah wasilah untuk mengenal Nabi Muhammad saw. lebih dekat. Jika kita menanamkan rasa cinta kepada Rasulullah, kita akan dijauhkan dari siksa api neraka," tutur Habib Qodir.

Ia menggambarkan betapa alam semesta tunduk dan mencintai Rasulullah, bahkan awan senantiasa menaungi ke mana pun beliau melangkah. Jamaah diajak mawas diri agar kehadirannya menghadirkan senyum keridaan Nabi di yaumil akhir kelak.

Kemarau Panjang Samarinda dan Seruan Tobat

Setibanya di Samarinda, kota itu tengah dilanda kemarau panjang lebih dari dua bulan tanpa tetesan air hujan. Habib Qodir menanggapi fenomena alam tersebut dengan pandangan spiritual yang mendalam.

Ia mengingatkan bahwa Allah SWT tidak akan menurunkan rahmat-Nya di suatu wilayah apabila masyarakatnya merasa nyaman dan damai dalam kubangan dosa. Jamaah diajak berintrospeksi, memperbanyak tobat, serta merekatkan kembali hubungan vertikal kepada Sang Pencipta.

Perbaikan hubungan horizontal antarsesama manusia lewat penjagaan tali silaturahmi dan persatuan disebutnya sebagai kunci utama pembuka pintu rahmat. Seruan itu disampaikan di tengah kekeringan yang belum menunjukkan tanda berakhir.

Konsep 4M untuk Pendidikan Anak di Kampung Madura

Langkah Habib Qodir berlanjut ke kawasan Jalan P. Suryanata, Gang H. Rahim, Kelurahan Air Putih, Samarinda Ulu, Minggu (6/9/2026). Wilayah yang akrab disapa Kampung Madura itu menjadi tempatnya berdampingan dengan kegiatan keagamaan warga setempat.

Di hadapan para orang tua, ia memberikan formula pengasuhan anak yang dirangkum dalam konsep "4M".

  • Mondok: memasukkan anak ke pondok pesantren.
  • Madrasah: menyekolahkan anak di lembaga pendidikan madrasah.
  • Mengaji: memastikan anak akrab dengan aktivitas belajar membaca Al-Qur'an.
  • Majelis: membawa anak gemar menghadiri majelis-majelis ilmu.

"Untuk membentuk masa depan anak dengan akhlak yang baik, orang tua harus memberikan minimal satu dari konsep 4M tersebut," pesan Habib Qodir.

Ia menyadari orang tua memiliki keterbatasan waktu dan tidak mungkin mengawasi buah hati selama 24 jam penuh. Karena itu, membentengi anak dengan fondasi agama yang kokoh disebutnya sebagai warisan terbaik demi keselamatan dunia dan akhirat.

Mengenal Rasul Semakin Dalam, Cinta Semakin Tumbuh

Dalam kesempatan bertukar pandangan, Habib Qodir merenungkan keunikan dalam mengenal figur Nabi Muhammad SAW. Kedekatan dengan sesama manusia sering kali justru menyingkap kekurangan dan cela.

Sebaliknya, semakin dalam seseorang mengenal dan mempelajari sirah Rasulullah, semakin membuncah rasa cinta, kagum, dan rindu di dalam dada. Pandangan itu menjadi benang merah rangkaian safari dakwahnya di Kalimantan Timur.

Reporter: Bramantyo Wicaksono
Sumber: jurnalborneo.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top