DPPKB Kutim Jemput Bola ke 482 Keluarga Berisiko Stunting di Telen, Intervensi Tak Hanya Soal Makanan

Penulis: Chandra Kusuma  •  Kamis, 27 Agustus 2026 | 00:55:01 WIB
Petugas DPPKB Kutim menyerahkan bantuan makanan tambahan secara simbolis kepada keluarga berisiko stunting di Kecamatan Telen.

SANGATTA — Sebanyak 482 kepala keluarga di Kecamatan Telen terdata berisiko stunting berdasarkan Sistem Informasi Keluarga (SIGA). Angka itu tersebar di delapan desa, dengan konsentrasi tertinggi berada di Desa Muara Pantun yang mencapai 148 KK, disusul Desa Juk Ayaq 98 KK dan Desa Lung Melah 75 KK.

Plh Kepala DPPKB Kutim, Yuriansyah T, menegaskan pendataan menjadi kunci awal sebelum intervensi dilakukan. "DPPKB itu mendata keluarga yang berisiko stunting. Ketika sudah terkena stunting, penanganan dan eksekusinya menjadi ranah Dinas Kesehatan," ujarnya di sela kegiatan.

Desa Muara Pantun Jadi Wilayah dengan Kasus Terbanyak

Data SIGA menunjukkan sebaran kasus yang tidak merata. Setelah Muara Pantun, Juk Ayaq, dan Lung Melah, angka kasus di desa lain lebih rendah: Nehes Marah Haloq 44 KK, Kernyanyan 43 KK, Long Noran 39 KK, Long Segar 18 KK, dan Rantau Panjang 17 KK.

Dalam kunjungan itu, petugas menyasar langsung keluarga berisiko, salah satunya rumah Ibu Rima di Desa Muara Pantun. Anak dari keluarga tersebut diketahui mengalami kondisi Kekurangan Energi Kronis (KEK), yang menjadi perhatian khusus dalam pemetaan.

Bantuan Makanan Hanya Salah Satu Sisi Penanganan

DPPKB Kutim turut menyerahkan bantuan makanan tambahan (PMT) secara simbolis. Bantuan dari Baznas Kutim itu diperuntukkan bagi periode Juni, Juli, dan Agustus, dengan penyaluran lanjutan dilakukan petugas PLKB di wilayah setempat.

Yuriansyah mengingatkan bahwa penanganan keluarga berisiko stunting tidak cukup dengan bantuan pangan. Faktor lain seperti akses air bersih, sanitasi, rumah layak huni, kondisi balita, tingkat kesejahteraan, hingga penggunaan kontrasepsi ikut menentukan keberhasilan program.

Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci Percepatan Penurunan Stunting

Pria kelahiran 1971 itu menekankan pentingnya kerja bersama. Pemerintah desa, PKK, perusahaan, tenaga kesehatan, hingga penyuluh KB diharapkan aktif melaporkan kondisi di lapangan.

"Tidak mungkin pekerjaan menangani keluarga risiko stunting dilakukan sendiri-sendiri. Harus melalui kolaborasi semua pihak," pungkasnya.

Kegiatan ini turut menghadirkan pemaparan dari Kabid Pengendalian Penduduk Tristiningsih mengenai layanan penanganan KRS, serta Kabid Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga Ani Saida yang memaparkan perkembangan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Anak Stunting (Genting).

Mewakili Camat Telen, Kasi Ketentraman dan Ketertiban Umum Andi Sultiana Sultan mengapresiasi pendekatan langsung ke desa. Menurutnya, cara ini membuat keluarga sasaran memperoleh edukasi dan pendampingan lebih optimal. "Kami mendukung upaya penanganan ini sehingga keluarga berisiko stunting di wilayah Telen dapat berkurang dan percepatan penurunan stunting di Kutai Timur terus ditingkatkan," imbuhnya.

Reporter: Chandra Kusuma
Sumber: infobenua.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top