KALIMANTAN TIMUR — Proyek PSEL ini tidak hanya sekadar solusi atas darurat sampah di kota-kota besar, tetapi juga dirancang sebagai proyek ekonomi yang menghadirkan lapangan kerja baru. Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, menegaskan bahwa inisiatif senilai Rp3 triliun ini akan menciptakan sekitar 1.000 lapangan kerja hijau. Selain itu, proyek ini diproyeksikan mampu menekan kebutuhan lahan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) hingga 90 persen, sebuah terobosan signifikan bagi kawasan perkotaan yang semakin padat.
Danantara mengklaim proyek ini melalui tahap penyaringan mitra yang ketat dan selektif. Pandu menjelaskan, proses pemilihan konsorsium dilakukan dengan menekankan prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang profesional.
"Dari enam konsorsium yang menyerahkan proposal pada 2-30 Januari 2026, hanya dua konsorsium yang berhasil lolos evaluasi dan kita lanjutkan ke tahap negosiasi pada bulan Januari hingga Februari 2026," ujarnya di Bekasi, Rabu (26/8/2026).
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa proyek ini tidak diberikan secara langsung, melainkan melalui kompetisi yang ketat. Hal ini dilakukan untuk memastikan mitra yang terpilih memiliki kapabilitas teknis dan finansial yang mumpuni dalam mengelola fasilitas pengolahan sampah berskala besar.
Kehadiran PSEL di Bekasi diharapkan menjadi jawaban atas dua persoalan klasik perkotaan: menumpuknya sampah dan kebutuhan energi yang terus meningkat. Dengan kapasitas kelola 500 ribu ton sampah, proyek ini akan mengubah limbah rumah tangga menjadi sumber energi terbarukan.
Energi hijau yang dihasilkan nantinya akan dialirkan untuk memenuhi kebutuhan listrik hingga 55.000 rumah di Kota Bekasi. Bagi pemerintah daerah, proyek ini juga membantu mengurangi beban biaya operasional pengelolaan sampah dan memperpanjang umur pakai TPA yang selama ini kerap kewalahan menerima kiriman limbah harian.
Proyek ini menjadi bagian dari portofolio investasi Danantara di sektor energi bersih. Ke depannya, keberhasilan proyek ini akan menjadi model bagi pengelolaan sampah di kota-kota besar lainnya di Indonesia yang menghadapi masalah serupa.