Xiaomi Raup Lebih Banyak dari HP Mahal, Tapi Kiriman Anjlok 26 Persen

Penulis: Chandra Kusuma  •  Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:18:31 WIB
Penurunan volume pengiriman Xiaomi pada kuartal II-2026 diiringi kenaikan harga jual rata-rata ponselnya menjadi 1.351 yuan.

KALIMANTAN TIMUR — Laporan keuangan Xiaomi untuk kuartal II-2026 mengirim sinyal yang kontradiktif. Secara volume, mereka kehilangan sekitar 11 juta unit dibanding periode yang sama tahun lalu (42,4 juta unit). Namun secara bisnis, segmen smartphone dan AIoT masih menyumbang pendapatan 84 miliar yuan dengan margin laba kotor 20 persen—angka yang sehat untuk industri semanis ini.

Kuncinya ada di harga jual rata-rata (ASP) yang menembus 1.351 yuan atau sekitar Rp 3,5 jutaan. Ini rekor tertinggi dalam sejarah perusahaan, didorong oleh kontribusi ponsel premium yang kini mencapai 32,1 persen dari total penjualan di China, naik 4,5 poin persentase dari tahun lalu.

Mengapa Volume Turun Justru Bisa Jadi Kabar Baik

Turunnya volume pengiriman sering dibaca sebagai pelemahan. Tapi untuk Xiaomi, ini bisa dibaca sebagai keberhasilan repositioning. Mereka sengaja mengurangi porsi ponsel entry-level yang marginnya tipis, dan menggantinya dengan lini flagship yang lebih menguntungkan.

Di pasar domestik China, pengiriman turun dari 11,5 juta unit (Q2 2025) menjadi 8,4 juta unit dengan pangsa pasar 14,2 persen. Namun penurunan ini terjadi bersamaan dengan naiknya porsi penjualan premium—artinya, mereka menjual lebih sedikit tapi dengan nilai lebih tinggi per unit.

Posisi Global: Tetap Kokoh di Tiga Besar

Xiaomi masih bertahan sebagai produsen smartphone terbesar ketiga dunia dengan pangsa pasar 11,5 persen—posisi yang sudah dipertahankan selama 24 kuartal berturut-turut. Secara regional, mereka menempati posisi kedua di Amerika Latin, Timur Tengah, dan Asia Tenggara, serta posisi ketiga di Eropa dan Afrika.

Pasar Indonesia yang termasuk kawasan Asia Tenggara otomatis menjadi salah satu lumbung penjualan mereka. Namun pola yang terjadi di China—penurunan volume dengan kenaikan ASP—perlu dicermati apakah akan merembet ke pasar kita.

Divisi Lain Menopang: EV dan AI

Pendapatan total Xiaomi mencapai 108,9 miliar yuan dengan laba bersih yang disesuaikan 6,2 miliar yuan. Selain smartphone dan AIoT, divisi Smart EV dan AI mulai berkontribusi—sebuah diversifikasi yang membuat Xiaomi tidak lagi bergantung penuh pada bisnis ponsel.

Bagi konsumen Indonesia, angka ini penting karena menunjukkan Xiaomi punya ruang bernapas finansial untuk terus agresif di pasar ponsel, bahkan saat volume global mereka menyusut.

Yang Perlu Diperhatikan Pembeli Indonesia

  • Harga flagship berpotensi naik: Dengan ASP global yang terus merangkak naik, harga jual seri Xiaomi 15 atau 16 series di Indonesia berisiko ikut terkerek—terutama jika kurs rupiah melemah.
  • Fokus ke premium: Jika strategi ini berlanjut, jangan kaget kalau opsi HP Xiaomi kelas menengah ke bawah semakin sedikit atau jarang update.
  • Ketersediaan stok: Penurunan volume produksi global berpotensi membuat beberapa varian terlambat masuk pasar Indonesia.

Verdict: Strategi Tepat, Tapi Hati-hati di Pasar Harga-Sensitif

Keputusan Xiaomi mengejar margin ketimbang volume adalah langkah berani. Di pasar global yang makin jenuh, menjual lebih sedikit tapi lebih mahal adalah cara bertahan yang rasional. Namun di Indonesia—pasar yang sensitif harga—strategi ini bisa menjadi bumerang jika mereka sampai mengorbankan lini Redmi yang selama ini jadi tulang punggung penjualan.

Untuk konsumen, kabar baiknya: Xiaomi secara finansial masih sehat dan punya dana untuk riset. Kabar buruknya: harga HP Xiaomi yang "murah" mungkin akan semakin sulit ditemukan di masa depan.

Reporter: Chandra Kusuma
Sumber: tekno.kompas.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top