2 Mahasiswa Kaltim di Australia Tertekan Biaya Hidup Naik, Beasiswa Habis untuk Sewa Rumah

Penulis: Chandra Kusuma  •  Sabtu, 15 Agustus 2026 | 12:50:31 WIB
Dua mahasiswa asal Kalimantan Timur di Australia menyiasati kenaikan biaya hidup dengan pindah ke hunian lebih kecil.

BALIKPAPAN — Kenaikan biaya hidup di Australia menjadi momok bagi pelajar asal Indonesia, termasuk mereka yang berasal dari Kalimantan Timur. Data Biro Statistik Australia (ABS) mencatat biaya hidup berbagai kelompok rumah tangga naik sekitar 3,7 hingga 4,7 persen dalam setahun hingga Juni 2026, menekan daya beli mahasiswa internasional yang mengandalkan uang tunjangan bulanan.

Kondisi ini dialami Sitti Rahma Yunus, dosen asal Makassar yang menempuh gelar PhD di University of Queensland dengan beasiswa LPDP sejak Januari 2025. Meski biaya kuliah ditanggung penuh, ia harus merelakan hampir seluruh tunjangan hidup bulanannya hanya untuk membayar sewa rumah di Brisbane.

"Kita dapat living allowance AU$2.700 [per bulan], kalau AU$620 kita bayar per minggu itu, jatuhnya AU$2.400 [per bulan]. Udah habis untuk [sewa] rumah aja itu living allowance," katanya kepada ABC Indonesia.

Tunjangan Keluarga Tak Sepadan dengan Biaya Sewa

Rahma yang tinggal bersama suami dan empat anaknya sempat menyewa rumah di kawasan Taringa seharga AU$620 per minggu. Ketika harga sewa naik menjadi AU$680 per minggu, ia memilih pindah ke rumah lebih kecil dengan dua kamar tidur di lokasi lain demi menekan pengeluaran.

Ia menjelaskan, LPDP memberikan tambahan tunjangan keluarga untuk suami dan satu anak, masing-masing sebesar 25 persen dari dana hidup bulanan. Namun, total tunjangan itu tetap tak cukup menutup biaya hidup sebuah keluarga besar di kota dengan biaya sewa termahal ketiga di Australia.

Utang Rp400 Juta Sebelum Berangkat

Keputusan membawa keluarga ke Australia memaksa Rahma meminjam dana sekitar Rp400 juta ke bank sebelum berangkat. Sebesar Rp300 juta digunakan untuk membeli asuransi kesehatan bagi suami dan anak-anaknya yang tidak ditanggung LPDP, sisanya untuk tiket pesawat dan kebutuhan keberangkatan.

Untuk menopang kebutuhan sehari-hari, suaminya bekerja penuh waktu sebagai petugas kebersihan di sekolah tempat anaknya belajar. Sementara itu, Rahma memilih mengurus sendiri anaknya yang berusia lima bulan dan dua setengah tahun karena biaya penitipan anak di Australia terlalu mahal.

"Saya mau menitipkan anak, nanti kita enggak cukup uangnya gitu. Jadi itu yang saya anggap sebenarnya berat sebagai ibu," ujarnya.

Penerima Australia Awards Juga Tertekan

Hal serupa dialami Anjana Demira, penerima Australia Awards Scholarship (AAS) yang mengambil Master of Global Media Communication di University of Melbourne. Ia datang bersama suami dan satu anak, namun tidak mendapat tunjangan biaya hidup tambahan untuk keluarga seperti penerima LPDP.

Anjana menerima Contribution to Living Expenses (CLE) sekitar AU$1.389 setiap dua minggu. Dari tabungan pribadi, ia harus merogoh kocek sekitar Rp120 juta untuk membeli asuransi kesehatan suami dan anaknya selama dua tahun, plus Rp20 juta tambahan di luar bantuan awal (Establishment Allowance) sebesar AU$5.000.

41 Persen Mahasiswa Internasional Kesulitan Cari Hunian

Persoalan tempat tinggal memang menjadi masalah utama pelajar asing di Australia. Survei Study Australia pada akhir 2025 mencatat, 41 persen mahasiswa internasional mengaku kesulitan mencari tempat tinggal. Tren ini diperparah dengan terbatasnya pasokan hunian dan harga sewa yang terus meningkat di kota-kota besar seperti Brisbane dan Melbourne.

Reporter: Chandra Kusuma
Sumber: news.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top