SAMARINDA — Angka Rp 11,49 triliun itu dihitung dari nilai PDRB awal Kaltim yang mencapai Rp 492,033 triliun. Pemangkasan 2,3 persen tersebut tidak hanya berasal dari lahan yang terbakar di wilayah sendiri, tetapi juga efek timbal balik dan limpahan kerugian ekonomi dari karhutla di provinsi lain.
Laporan CELIOS dirilis November 2026 dan mencakup dampak karhutla di 34 provinsi. Metode IRIO dipakai untuk mengurai efek berantai kebakaran hutan terhadap aktivitas ekonomi di wilayah terdampak maupun daerah lainnya.
48.775 Hektare Lahan Terbakar di Kaltim
Luas lahan terbakar di Kaltim tercatat 48.775 hektare. Secara nasional, CELIOS mencatat total lahan terbakar mencapai 1,92 juta hektare, dengan 86 persen di antaranya tersebar di 10 provinsi.
Kaltim masuk dalam daftar sepuluh provinsi tersebut, bersama Papua Selatan, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jawa Timur, Maluku, dan Nusa Tenggara Barat.
Penerimaan Daerah Kehilangan Rp 446,55 Miliar
Dampak karhutla menjalar ke potensi penerimaan daerah. CELIOS memperkirakan Kaltim kehilangan potensi dampak bersih sebesar 1,62 persen atau setara Rp 446,55 miliar akibat terganggunya aktivitas ekonomi.
Angka itu melengkapi kerugian yang sudah muncul dari hilangnya aset dan menyusutnya aktivitas warga di sekitar area terbakar.
87.146 Warga Berpotensi ISPA, Biaya Kesehatan Rp 470 Miliar
Beban kesehatan menjadi sisi lain yang dihitung CELIOS. Dengan jumlah penduduk Kaltim 3.766.039 jiwa, lembaga itu memperkirakan 87.146 orang berpotensi mengalami ISPA sepanjang 2026.
Perhitungan tersebut merujuk data BPJS yang mencatat prevalensi ISPA nasional sebesar 2,2 persen pada kasus ter