SAMARINDA — Bibit yang ditanam bukan jenis sembarangan. Borneo Kind memilih kayu-kayuan endemik Kalimantan seperti Balangeran, Bangris, Tengkawang, Kapur, Gaharu, Nyamplung, dan Meranti, ditambah Durian yang masuk kategori Multi Purpose Tree Species (MPTS).
Pemilihan jenis itu disesuaikan dengan karakter ekosistem Tahura Bukit Soeharto sebagai kawasan konservasi. Kawasan ini dikenal menyimpan kekayaan hayati, baik flora maupun fauna, yang perlu dipulihkan setelah kebakaran.
Mengapa Karhutla Jadi Isu yang Diangkat
Ketua Borneo Kind Wawan Irawan menyebut komunitasnya awalnya hanya kelompok kreator konten. Ruang geraknya lalu melebar dengan membuka kesempatan bagi masyarakat untuk merespons persoalan lingkungan, termasuk kebakaran hutan dan lahan.
Alasan utamanya dampak asap yang dirasakan langsung warga Kalimantan. "Kenapa kita harus peduli dengan isu karhutla ini? Pertama adalah Karhutla ini memberikan dampak yang sangat negatif bagi kita masyarakat khususnya di Kalimantan dampak negatif yang paling kita rasakan adalah asapnya itu," kata Wawan.
Menurutnya, kepedulian tidak cukup disalurkan lewat kritik atau unggahan di media sosial. Gerakan Save Our Forest dirancang agar lebih banyak orang terlibat langsung menjaga kelestarian hutan.
Bukan Kegiatan Sekali Selesai
Penanaman di Tahura Bukit Soeharto disebut sebagai volume pertama. Wawan memastikan rangkaian kegiatan akan berlanjut ke volume-volume berikutnya.
"Borneo Kind temanya Save Our Forest ini enggak cuma hari ini aja. Jadi kami akan terus continue akan berkelanjutan ini baru volume satu. Akan ada volume dua, volume tiga, volume empat, khusus untuk Save Forest ini," ujarnya.
Harapan jangka panjangnya, hutan Kalimantan bisa kembali seperti semula. Wawan menyoroti Tahura sebagai wilayah konservasi yang penting bagi ekosistem hayati, satwa, flora, dan fauna.
Otorita IKN: Menanam Sudah Jadi Kebiasaan
Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono menilai pemulihan lingkungan tidak bisa bergantung pada kegiatan seremonial. Otorita IKN mengklaim sudah membiasakan penanaman pohon setiap dua pekan.
"Kami di Otorita IKN sudah menjadi lifestyle. Bukan seremonial. Saya boleh challenge, kami dua minggu sekali nanam pohon di Otorita IKN. Makanya kami sangat mendukung dan terlibat dalam kegiatan Borneo Kind ini," katanya.
Basuki menekankan kolaborasi sebagai kunci. Pemerintah, instansi kehutanan, komunitas, dan masyarakat dinilai tidak akan efektif bekerja sendiri-sendiri.
"Kami sendiri tidak akan sanggup, tidak akan efektif, (instansi) kehutanan sendiri tidak akan efektif, Borneo (kind) sendiri mungkin juga harus berkolaborasi dengan yang lain. Jadi saya kira kerja sama ini harus kita teruskan. Saya ingin Kalimantan Timur menanam pohon menjadi lifestyle," ujarnya.
Save Our Forest sebagai Keharusan
Basuki menegaskan menjaga alam tidak boleh berhenti sebagai slogan. "Alam adalah ibu, bila engkau menyakitinya engkau akan kehilangan pelukan terhangat dalam hidupmu. Jadi saya kira save our forest is a must. Jangan jadikan selogan saja tapi is a must. Save our forest is a must kita teruskan," pungkasnya.
Seribu bibit di Bukit Soeharto belum cukup mengembalikan hutan seperti sediakala. Namun penanaman di lahan yang pernah terbakar itu menjadi titik awal pemulihan, dengan pekerjaan lanjutan menunggu di volume-volume berikutnya.