KALIMANTAN TIMUR — Seorang perempuan 27 tahun di Kolkata, India, menjalani USG karena nyeri perut dan muntah selama enam jam. Dokter menemukan satu janin sehat berdetak normal, tapi ada janin kedua yang sudah membatu di sisi kiri perutnya. Kondisi langka ini disebut litopedion, dan laporan kasusnya diterbitkan di jurnal Frontiers in Medicine.
Perempuan itu sedang hamil 12 minggu saat datang ke rumah sakit. Hasil USG sebelumnya sempat dinyatakan normal, sehingga temuan janin membatu di luar rahim benar-benar di luar dugaan tim dokter.
Berdasarkan panjang tulang paha janin yang membatu, dokter memperkirakan usia kehamilannya mencapai 22 minggu sebelum akhirnya meninggal. Operasi pengangkatan massa kalsifikasi berjalan tanpa mengganggu janin yang masih hidup di dalam rahim.
Apa Itu Litopedion atau Janin Membatu
Litopedion berasal dari bahasa Yunani yang berarti "anak batu". Kondisi ini terjadi ketika kehamilan tertanam di luar rahim, tepatnya di rongga perut, lalu janin meninggal setelah sekitar bulan ketiga.
Jaringan janin yang sudah terlalu besar tidak bisa diserap kembali oleh tubuh, dan tidak ada jalan alami untuk mengeluarkannya. Tubuh lalu memperlakukan jaringan itu seperti benda asing dan melapisinya dengan garam kalsium.
Jika dibiarkan bertahun-tahun, janin secara efektif berubah menjadi batu. Dokter di Kolkata bekerja sama dengan kolega dari Sheffield Teaching Hospitals dan University of Nottingham mencatat, kurang dari selusin kombinasi serupa muncul dalam literatur medis modern.
Seberapa Langka Kondisi Ini
Kehamilan abdominal menyumbang sekitar 1 persen dari seluruh kehamilan ektopik. Angkanya berkisar 1 dari 11.000 hingga 1 dari 30.000 kehamilan.
Sementara litopedion sendiri diperkirakan terjadi pada 0,0054 persen dari semua kehamilan. Angka ini membuatnya masuk kategori fenomena medis yang sangat jarang ditemui dokter kandungan.
Tiga Syarat Terbentuknya Janin Membatu
Laporan kasus dalam jurnal Frontiers in Medicine menyebut ada tiga syarat agar janin mengalami kalsifikasi. Pertama, kehamilan harus bertahan melewati trimester pertama sebelum janin meninggal.
Kedua, jaringan harus tetap steril sehingga tidak terbentuk abses. Ketiga, seluruh proses harus luput dari deteksi supaya kalsifikasi bisa selesai sempurna.
Penyebab dan Faktor Risiko
Kehamilan ektopik yang tidak ter