Pencarian

Breastfeeding Gaslighting: Ketika Tekanan Menyusui Justru Membuat Ibu Menyerah di Bulan Pertama

Rabu, 09 September 2026 • 09:06:01 WIB
Breastfeeding Gaslighting: Ketika Tekanan Menyusui Justru Membuat Ibu Menyerah di Bulan Pertama
Choi Yeon-soo membagikan pengalamannya menghadapi tekanan sosial untuk terus menyusui bayinya.

KALIMANTAN TIMUR — Pengalaman menyusui setiap ibu berbeda. Namun, tekanan untuk terus menyusui tanpa memahami kondisi masing-masing bisa menjadi bumerang. Alih-alih bertahan, sebagian ibu justru menyerah lebih cepat dari rencana awal.

Curhat Choi Yeon-soo: Rasa Bersalah yang Berujung pada Keputusan Berhenti

Choi Yeon-soo, putri chef terkenal Korea Selatan Choi Hyun-seok, membagikan pengalamannya di media sosial. Ia menjawab pertanyaan netizen yang merasa bersalah karena ingin memberikan susu tambahan pada bayinya setelah terus didorong untuk menyusui.

Choi mengaku kerap mendengar komentar bernada menekan. Bayinya lahir kecil, ASI-nya melimpah, dan menyusui dianggap pilihan terbaik. Komentar-komentar itu justru menghantuinya saat memutuskan berhenti menyusui. Ia sempat menyesal dan mempertimbangkan relaktasi, tetapi kondisi fisiknya membuat keputusan itu terasa mustahil.

Keluhan di pergelangan tangan akibat mempertahankan posisi menyusui, postur tubuh yang berubah, hingga rasa tanggung jawab yang tak pernah lepas meski suaminya membantu memberikan ASI perah, semakin mempersempit waktu istirahatnya. Choi akhirnya bertahan hanya sekitar satu bulan sebelum menyerah.

Ia menegaskan tetap menghormati ibu yang memilih menyusui. Namun, ia berharap keputusan soal pemberian makanan bayi tidak lagi dijadikan tolok ukur kasih sayang seorang ibu.

Apa Itu Breastfeeding Gaslighting?

Istilah ini bukan sekadar tren. Breastfeeding gaslighting merujuk pada tekanan sosial yang membuat ibu meragukan kemampuan dan keputusannya sendiri dalam menyusui. Komentar-komentar yang tampak "peduli" justru menjadi alat untuk mengontrol pilihan personal ibu.

Dampaknya nyata: rasa bersalah, kecemasan, hingga depresi pascapersalinan yang semakin berat. Padahal, keputusan menyusui atau tidak seharusnya berada di tangan ibu berdasarkan kondisi fisik dan mentalnya, bukan karena takut dihakimi orang lain.

Dukungan yang tepat—bukan penghakiman—adalah kunci. Suami, keluarga, dan tenaga kesehatan perlu memahami bahwa setiap ibu punya perjalanan menyusui yang berbeda. Menghormati pilihan ibu adalah bentuk dukungan paling sederhana yang bisa diberikan.

Follow halobontang.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: haibunda.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks