Pencarian

Sennheiser Spectera Resmi Masuk Indonesia, Bawa Wireless Audio Bidirectional Pertama

Kamis, 17 September 2026 • 16:51:31 WIB
Sennheiser Spectera Resmi Masuk Indonesia, Bawa Wireless Audio Bidirectional Pertama

KALIMANTAN TIMUR — Sennheiser resmi meluncurkan sistem audio wireless Spectera ke pasar Indonesia, mengandalkan teknologi WMAS yang diklaim sebagai sistem bidirectional wideband pertama di dunia. Satu base station Spectera mampu menangani hingga 64 link audio, terdiri dari 32 input dan 32 output, dengan latensi serendah 0,7 milidetik. Kehadiran perangkat ini menyasar kebutuhan audio profesional di panggung, studio, dan fasilitas broadcast yang selama ini bergantung pada dua sistem wireless terpisah.

Sennheiser Spectera membawa pendekatan berbeda dalam pengelolaan audio wireless profesional. Alih-alih memisahkan jalur mikrofon dan in-ear monitor, sistem ini menggabungkan keduanya dalam satu bodypack yang bekerja dua arah secara bersamaan.

Perangkat ini pertama kali diperkenalkan di ajang IBC 2024, pameran teknologi broadcast terbesar di Eropa, sebelum akhirnya dipasarkan ke Indonesia. Peluncuran lokal ini menandai masuknya kategori wireless audio bidirectional wideband ke pasar dalam negeri.

Apa Itu Wireless Bidirectional dan Mengapa Penting

Pada sistem konvensional, musisi di atas panggung memakai mikrofon untuk mengirim suara ke sistem audio, lalu memakai IEM untuk mendengar suara yang dikirim balik. Dua kebutuhan itu biasanya menuntut link wireless yang terpisah.

Spectera memungkinkan satu bodypack menangani sinyal mikrofon dan IEM sekaligus, dalam dua arah komunikasi yang berjalan bersamaan. Bagi kru panggung, ini memangkas jumlah perangkat yang harus dipasang dan dikelola di rak alat.

Teknologi WMAS di Balik Spectera

Fitur unggulan perangkat ini adalah WMAS (Wireless Multichannel Audio System). Teknologi tersebut memungkinkan satu carrier RF lebar menampung banyak channel audio sekaligus, bukan satu frekuensi untuk tiap mikrofon seperti pada sistem narrowband konvensional.

WMAS disebut lebih resisten terhadap RF fading, yakni gangguan sinyal radio akibat pantulan di lingkungan sekitar. Sinyal audio disebar ke seluruh lebar carrier RF yang jauh lebih luas, sekitar 6-8 MHz, bukan hanya di satu titik frekuensi sempit.

Konsekuensinya, jika sebagian lebar frekuensi terkena fading, bagian lain dari carrier tetap dapat membawa data dengan baik. Pendekatan ini juga lebih hemat spektrum karena banyak channel audio berbagi satu carrier RF lebar yang sama, sehingga kebutuhan spektrum total jauh lebih sedikit dibanding alokasi frekuensi terpisah untuk tiap channel.

Kapasitas 64 Channel dan Latensi 0,7 Milidetik

Satu base station Spectera dapat menampung hingga 64 channel, terdiri dari 32 input dan 32 output. Latensinya tercatat sangat rendah, hingga 0,7 milidetik.

Bagi musisi di atas panggung, angka tersebut berarti delay yang berpotensi merusak timing tidak akan terasa. Kru audio pun tidak perlu mengorbankan sinkronisasi demi jumlah channel yang besar.

Dampak ke Industri Audio Profesional

Kehadiran Spectera menandai lompatan di industri audio wireless profesional. Dengan menggabungkan mikrofon dan IEM dalam satu sistem bidirectional, perangkat ini mengurangi kompleksitas rak alat sekaligus menghadirkan latency yang nyaris tak terasa.

Sennheiser memposisikan Spectera sebagai solusi yang lebih praktis untuk mengelola wireless audio profesional. Untuk pasar Indonesia, sistem ini relevan bagi penyelenggara konser, studio rekaman, maupun fasilitas broadcast yang rutin beroperasi dengan banyak channel audio dalam satu waktu.

Follow halobontang.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jagatreview.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks