KALIMANTAN TIMUR — Laporan terbaru mengungkap gletser di pegunungan Himalaya mencair 65 persen lebih cepat dibandingkan satu dekade lalu, memicu kekhawatiran krisis air di Asia Selatan. Riset yang disusun konsultan pembangunan berkelanjutan Systemiq bersama Institut Nasional Lingkungan Himalaya Govind Ballabh Pant India ini memperingatkan kawasan tersebut menghadapi titik kritis "puncak air" pada pertengahan abad ini. Peringatan ini muncul setelah banjir bandang dahsyat yang dipicu runtuhnya gletser Langtang Lirung di Nepal pada 26 Agustus 2026.
Bencana yang melanda Nepal bukan sekadar peristiwa tunggal. Runtuhnya gletser di puncak Langtang Lirung pada 26 Agustus 2026 memicu banjir bandang yang menyapu seluruh kota dan menenggelamkan pembangkit listrik tenaga air di wilayah tersebut.
Data sementara mencatat lebih dari 5.130 orang masih dinyatakan hilang dan sedikitnya 1.386 lainnya dipastikan tewas sejak runtuhnya gletser. Tim penyelamat masih berpacu dengan waktu mencari sekitar 900 pekerja utilitas yang terjebak di terowongan pembangkit listrik Nepal yang hancur.
Di seberang perbatasan, ratusan orang dilaporkan hilang dan puluhan tewas di China. Peristiwa ini menjadi titik awal dari apa yang diperingatkan para pakar sebagai permulaan mencairnya Gunung Himalaya yang jauh lebih mematikan.
Laju Pencairan yang Mengkhawatirkan
Laporan terbaru memperingatkan bahwa puncak es Himalaya baru saja memulai fase pencairan yang berbahaya. Diperkirakan sekitar 1.439 mil kubik atau setara 6.000 kilometer kubik es glasial yang menutupi pegunungan di Asia ini kini mencair 65 persen lebih cepat dibandingkan satu dekade lalu.
Riset ini disusun oleh konsultan pembangunan berkelanjutan Systemiq yang berkolaborasi dengan Institut Nasional Lingkungan Himalaya Govind Ballabh Pant India, pemerintah India, dan sejumlah kelompok lain. Tujuannya menghasilkan penilaian komprehensif terhadap kondisi pegunungan Himalaya.
Laporan tersebut memperingatkan seluruh kawasan menghadapi titik kritis "puncak air" pada pertengahan abad ini. Fase ini ditandai banjir dahsyat yang terus meningkat sebelum akhirnya puncak Himalaya yang hampir mengering memutus pasokan air tawar ke sungai, waduk, dan pertanian di sebagian besar wilayah Asia Selatan.
Dampak ke 2 Miliar Penduduk
Sungai-sungai yang selama ini dihidupi oleh siklus hidrologi musiman Himalaya merupakan sumber ketahanan pangan dan air bagi sekitar 2 miliar orang. Siklus tersebut mencakup pertumbuhan dan pencairan gletser Himalaya yang berlangsung secara musiman.
Penelitian Systemiq memproyeksikan kawasan Hindu Kush Himalaya dapat kehilangan hingga 80 persen volume gletser yang tersisa pada tahun 2100 jika perkembangan saat ini berlanjut. Temuan ini sejalan dengan perkiraan dari Pusat Internasional untuk Pengembangan Pegunungan Terpadu (ICIMOD).
Nicholas Stern, pakar ekonomi yang juga ketua Institut Perubahan Iklim dan Lingkungan Grantham di London School of Economics, menyoroti posisi unik Himalaya dibandingkan kawasan kutub lainnya.
"Himalaya adalah Kutub Ketiga. Tidak seperti Arktik atau Antartika, kutub ini memiliki ratusan juta orang yang hidup di bawahnya," ungkap Stern, yang juga anggota Majelis Tinggi Inggris.
Menurut Stern, es dan air dingin di Gunung Himalaya sangat penting bagi ratusan juta penduduk yang tinggal di bawahnya. Ketergantungan ini menjadikan krisis pencairan gletser bukan hanya persoalan lingkungan, melainkan ancaman langsung terhadap kehidupan manusia.
Kekhawatiran Siklus Air yang Mengering
Para pakar yang bekerja sama dengan pemerintah India mengungkap kekhawatiran bahwa siklus air Himalaya yang memasok sungai-sungai di Asia Selatan akan mengering. Fenomena ini diperkirakan diawali dengan banjir bandang yang sangat merusak seperti yang terjadi di Nepal.
Artinya, bencana banjir yang melanda Nepal bukan puncak dari masalah, melainkan awal dari rangkaian krisis yang lebih panjang. Setelah fase banjir dahsyat berlalu, wilayah tersebut berpotensi menghadapi kelangkaan air yang berdampak pada pertanian, pembangkit listrik, dan pasokan air minum.
Laporan Systemiq menegaskan bahwa titik kritis puncak air akan terjadi pada pertengahan abad ini. Setelah fase tersebut terlewati, pasokan air tawar ke sungai dan waduk di sebagian besar Asia Selatan diperkirakan menurun drastis.
Bagi ratusan juta penduduk yang tinggal di bawah pegunungan Himalaya, es dan air dingin bukan sekadar lanskap. Keduanya adalah sumber kehidupan yang menentukan ketahanan pangan dan air di kawasan tersebut.