BONTANG — Kenaikan angka fakir miskin di Kota Bontang menjadi perhatian Wakil Wali Kota Agus Haris. Ia menilai lonjakan 52 persen dalam tempo sebulan perlu dikroscek langsung ke lapangan sebelum data dipakai sebagai dasar penyaluran bantuan.
Agus menyebut rapat percepatan penurunan kemiskinan akan digelar pekan depan. Ia akan mengundang Dinsos-PM, jajaran kecamatan, dan kelurahan untuk memeriksa ulang temuan tersebut.
Agus Haris: Saya Terkejut Kok Bisa Naik
Menurut Agus, program BLT yang berjalan sejak awal 2026 seharusnya menekan angka kemiskinan. Pemkot Bontang kala itu menetapkan angka kemiskinan 17 ribu orang atau 4.997 kepala keluarga.
"Saya terkejut kok bisa naik. Pekan depan saya panggil semua, baik Dinsos-PM, kecamatan, dan kelurahan," ucap Agus Haris.
Ia menjelaskan, dari data kementerian angka kemiskinan sempat turun ke 17 ribu. Setelah disaring, hanya sekitar seribu warga yang akan menerima BLT karena sisanya sudah tercakup bantuan nasional.
Dinsos-PM: Metode Pendataan Berubah Jadi Visitasi Rumah ke Rumah
Kepala Dinsos-PM Ahmad Yani menyatakan kenaikan data fakir miskin bersumber dari perubahan metode pendataan. Sebelumnya pencatatan hanya berbasis Kartu Keluarga, kini petugas melakukan visitasi dari rumah ke rumah.
"Benar ada tambahan. Data itu sudah diverifikasi. Kebanyakan dari kategori fakir miskin," ucap Ahmad Yani.
Hasil pencatatan terbaru menempatkan total warga berstatus fakir miskin sebanyak 1.480 orang, naik 52 persen dari data sebelumnya.
Sebaran Warga Miskin di Tiga Kecamatan Bontang
Data awal tahun mencatat angka kemiskinan tersebar di tiga kecamatan. Bontang Selatan menempati posisi tertinggi dengan 8.566 jiwa atau 2.249 kepala keluarga.
Posisi kedua diisi Kecamatan Bontang Barat dengan 2.453 jiwa atau 728 kepala keluarga. Sisanya tersebar di kecamatan lain di Kota Bontang.
Rapat pekan depan diharapkan memastikan apakah tambahan 1.480 warga fakir miskin itu memang layak masuk kategori penerima BLT atau hanya dampak perbedaan metode pendataan.