KALIMANTAN TIMUR — Bunda, pernahkah Si Kecil tiba-tiba tersentak kaget, merentangkan kedua lengannya, lalu menariknya kembali sambil menangis? Gerakan refleks ini sering terjadi saat bayi tidur telentang atau mendengar suara mendadak. Tenang, ini adalah hal yang normal terjadi pada bayi baru lahir.
Refleks Moro adalah mekanisme pertahanan diri bawaan yang sudah dimiliki bayi sejak dalam kandungan, bahkan sejak usia kehamilan 28 minggu. Refleks ini berperan penting untuk membantu bayi mengambil napas pertamanya dan merespons rangsangan dari lingkungan sekitar.
Apa Itu Refleks Moro dan Kapan Muncul?
Refleks ini pertama kali diperkenalkan oleh dokter anak asal Jerman, Ernst Moro, pada tahun 1918. Dalam dunia medis, refleks Moro menjadi salah satu indikator utama untuk menilai fungsi sistem saraf bayi baru lahir. Tenaga medis biasanya memeriksa refleks ini sebagai prosedur standar setelah bayi lahir.
Menurut Cleveland Clinic, refleks Moro adalah respons "lawan atau lari" yang bekerja seperti sistem alarm pribadi pada bayi. Refleks ini akan aktif ketika bayi merasa seolah-olah sedang jatuh, mendengar suara keras, atau melihat cahaya terang. Umumnya, refleks ini akan menghilang dengan sendirinya saat bayi berusia empat hingga enam bulan.
Dua Fase Gerakan Refleks Moro
Bunda mungkin memperhatikan gerakan refleks ini terjadi dalam dua tahap yang berurutan. Memahami kedua fase ini bisa membantu Bunda membedakan refleks Moro dari gerakan kaget biasa.
1. Fase Ekstensi
Fase pertama terjadi saat bayi merasakan sensasi jatuh atau terkejut. Pada tahap ini, bayi akan merentangkan kedua lengannya ke samping dengan telapak tangan terbuka lebar dan jari-jari meregang. Beberapa bayi juga meluruskan kaki dan sedikit melengkungkan punggungnya.
2. Fase Adduksi
Fase kedua adalah kelanjutan dari reaksi awal. Bayi akan menarik kembali lengannya ke arah dalam dengan gerakan seperti memeluk. Gerakan ini biasanya diikuti dengan tangisan sebagai respons emosional atas rasa terkejut yang dialaminya.
Penyebab Refleks Moro pada Bayi
Refleks Moro terjadi ketika sistem vestibular di telinga bagian dalam bayi mendeteksi sensasi jatuh. Sinyal darurat ini kemudian dikirim ke batang otak yang langsung mengaktifkan respons refleks. Janin sudah bisa menunjukkan refleks ini sejak trimester kedua, namun paling sering terlihat pada trimester ketiga kehamilan.
Seiring bertambahnya usia, refleks Moro perlahan berubah menjadi refleks kejut lain yang disebut refleks strauss. Refleks strauss ini akan menetap seumur hidup dan berfungsi membuat seseorang tersentak lalu menilai apakah ada bahaya di sekitarnya.
Kapan Refleks Moro Dianggap Tidak Normal?
Meski umumnya normal, ada beberapa kondisi yang membuat refleks Moro perlu mendapatkan perhatian khusus. Bunda perlu waspada jika refleks ini tidak muncul atau justru menetap terlalu lama.
Penelitian menunjukkan bahwa kelahiran prematur dengan berat badan sangat rendah berisiko mengalami keterlambatan perkembangan motorik. Selain itu, kondisi seperti cedera lahir, asfiksia berat saat persalinan, pendarahan intrakranial, dan infeksi dapat menyebabkan refleks Moro tidak muncul sama sekali.
Tanda Refleks Moro yang Perlu Diwaspadai
Bunda perlu memperhatikan beberapa tanda berikut dan segera berkonsultasi dengan dokter anak jika mengalaminya:
- Refleks Moro hanya muncul di satu sisi tubuh atau terlihat asimetris
- Refleks ini tidak muncul sama sekali pada bayi baru lahir
- Refleks Moro masih menetap setelah bayi berusia enam bulan
- Gerakan refleks disertai dengan kekakuan atau kelemahan pada salah satu sisi tubuh
Memahami refleks Moro membantu Bunda membedakan respons normal dari tanda bahaya. Jika ragu, jangan sungkan untuk berkonsultasi dengan dokter anak. Pemeriksaan dini akan memberikan ketenangan dan memastikan tumbuh kembang Si Kecil berjalan optimal.