Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas II A Samarinda, Kalimantan Timur, memanen kacang panjang, timun, terong, sawi, cabai, hingga ikan nila hasil budidaya warga binaan di lahan sisa fasilitas lapas. Program agribisnis terpadu ini digarap untuk mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus membekali keterampilan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) sebelum kembali ke masyarakat.
SAMARINDA — Lahan kosong di sela-sela fasilitas Lapas Narkotika Kelas II A Samarinda kini berubah menjadi area produktif. Sejumlah Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) tengah fokus membesarkan seribu benih ikan nila di kolam terpal, sementara di bedeng-bedeng tanam di dekatnya, kacang panjang, timun, terong, sawi, dan cabai tumbuh subur dan siap dipanen.
Kepala Lapas Narkotika Samarinda, Puang Dirham, menegaskan bahwa kegiatan budidaya terpadu ini merupakan bagian nyata dari dukungan institusi terhadap program ketahanan pangan nasional. “Kegiatan budidaya terpadu ini secara otomatis mendukung kelancaran program ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan dari area dalam penjara,” ujarnya di Samarinda, Jumat.
Pemanfaatan Lahan Sempit dengan Teknik Modern
Alih-alih membiarkan lahan kosong, jajaran Seksi Kegiatan Kerja bersama para WBP mengoptimalkan area luar dan dalam fasilitas lapas. Mereka menerapkan teknik budidaya modern, termasuk penanaman hortikultura dengan media tanam hemat ruang yang cocok untuk lahan terbatas.
Para warga binaan juga dibekali tata cara pembesaran bibit ikan yang baik. Hasilnya, panen sayur mayur dan ikan nila kini berjalan secara berkala, menghidupkan aktivitas produktif di dalam lingkungan pemasyarakatan.
Hasil Panen untuk Kemandirian Pangan Lapas
Seluruh hasil panen dari program agribisnis ini tidak dijual ke luar. Puang Dirham menjelaskan, komoditas tersebut dimanfaatkan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi harian di dapur Lapas, sehingga mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar.
Langkah ini menjadi bukti nyata terwujudnya kemandirian pangan di lingkungan pemasyarakatan. Selain menekan biaya operasional, kualitas gizi bagi warga binaan pun lebih terjamin karena bahan makanan diproduksi sendiri.
Menanam Keterampilan, Menuai Masa Depan
Lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan dapur, proses kerja yang dijalani WBP—mulai dari penyemaian bibit unggul hingga pemeliharaan harian—diyakini membentuk nilai kedisiplinan dan etos kerja individu. Aktivitas ini menjadi pengisi waktu yang positif di tengah masa pembinaan.
Puang Dirham berharap ilmu pertanian dan perikanan yang didapatkan selama di dalam lapas menjadi bekal hidup yang berguna. “Kami sangat berharap ilmu keterampilan bertani ini kelak benar-benar menjadi bekal hidup saat mereka kembali berbaur di tengah masyarakat,” tuturnya.