KALIMANTAN TIMUR — Kekalahan dari rival di semifinal Piala Dunia memang tidak bisa ditutupi. Apalagi ini menjadi pukulan keempat bagi Inggris dalam lima turnamen besar terakhir — final Euro 2020 dan 2024, semifinal Piala Dunia 2018, dan kini 2026. Tapi jika melihat lebih dalam, ada banyak sinyal positif yang layak dicatat.
Duet Kane-Bellingham: Mesin Gol Berlapis
Memiliki satu calon pencetak gol terbanyak di skuad sudah istimewa. Inggris punya dua. Harry Kane datang ke turnamen ini dengan rekor mencetak gol setiap 66 menit di Bayern Munich musim ini. Ia langsung mengemas dua gol di laga pembuka melawan Kroasia, dan total enam gol hingga laga perebutan tempat ketiga.
Jude Bellingham, yang sempat menjalani musim relatif tenang di Real Madrid pasca operasi bahu, justru menyamai torehan Kane dengan enam gol. Dua golnya ke gawang Norwegia di perempatfinal memastikan langkah Inggris ke semifinal. Keduanya kini hanya terpaut dua gol dari Kylian Mbappe dan Lionel Messi yang memuncaki daftar pencetak gol dengan delapan gol.
Semifinal Bukan Lagi Sekadar Mimpi
Sebelum 2018, Inggris tidak pernah lolos melewati perempatfinal sejak 1990. Kini, mencapai semifinal atau final di empat dari lima turnamen terakhir adalah lonjakan performa yang sulit dibantah. Trofi memang belum datang, tapi konsistensi ini membuktikan tim asuhan Thomas Tuchel bukan sekadar peserta dadakan.
Adaptasi di Kondisi Terberat
Piala Dunia 2026 tidak hanya diuji oleh lawan, tapi juga cuaca. Panas, kelembaban tinggi, dan petir di Atlanta, Miami, hingga ketinggian stadion Azteca Meksiko menjadi tantangan nyata. Inggris tetap tampil solid — termasuk saat menghadapi tuan rumah Meksiko di stadion yang dikenal angker. Prestasi ini menunjukkan kekuatan mental dan fisik skuad, bekal berharga menuju Euro 2028 yang akan dimainkan di kondisi lebih bersahabat.
Wajah Baru yang Bersinar: Djed Spence
Keputusan Tuchel meninggalkan nama-nama seperti Harry Maguire, Cole Palmer, dan Trent Alexander-Arnold sempat mengundang tanda tanya. Tapi pilihan pada Djed Spence — bek Tottenham yang sedang berjuang di zona degradasi — terbukti jitu. Spence tampil gemilang dengan tekel-tekel krusial, terutama saat melawan Argentina di semifinal. Bek jarang mendapat sorotan setinggi pencetak gol, tapi kontribusinya layak diapresiasi.
Inggris pulang tanpa trofi, lagi. Tapi fondasi tim ini lebih kokoh dari sekadar hasil akhir. Euro 2028 akan menjadi panggung berikutnya untuk membuktikan bahwa konsistensi ini bukan kebetulan.