Pencarian

Dua Startup AS Sukses Uji Coba Misi Intelijen Satelit ala "Top Gun" untuk Space Force

Jumat, 03 Juli 2026 • 17:57:01 WIB
Dua Startup AS Sukses Uji Coba Misi Intelijen Satelit ala
Dua startup AS berhasil uji coba misi inspeksi satelit canggih untuk US Space Force.

KALIMANTAN TIMUR — Pekan lalu, dua perusahaan rintisan antariksa asal Amerika Serikat, True Anomaly dan Rocket Lab, berhasil menyelesaikan misi pertemuan dan inspeksi satelit yang sangat rumit. Misi yang dinamakan Victus Haze ini merupakan demonstrasi kemampuan yang dipesan langsung oleh US Space Force.

Dalam skenario tersebut, dua satelit dari perusahaan yang berbeda harus bertemu di orbit dan saling melakukan pengintaian. Kemampuan ini dinilai krusial di tengah persaingan sengit antara AS, Rusia, dan China dalam pengembangan senjata antariksa.

Misi Inspeksi di Kecepatan 17.500 mph

Rocket Lab meluncurkan satelit bernama Puma hanya dalam waktu 16 jam 42 menit setelah menerima pemberitahuan. Waktu peluncuran yang sangat singkat ini terbilang luar biasa, mengingat roket biasanya membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk persiapan.

Sementara itu, satelit Jackal milik True Anomaly sudah menunggu di orbit. Jackal tidak diberi tahu titik pasti di mana Puma akan tiba. Satelit ini harus menggunakan sensor onboard-nya sendiri untuk menemukan dan mengidentifikasi target dari jarak 2.000 kilometer.

Setelah menemukan target, Jackal kemudian terbang mendekati Puma—meski jarak pastinya dirahasiakan—dan mengorbitinya untuk mengambil gambar dari berbagai sisi. Kedua wahana bergerak dengan kecepatan hampir 17.500 mil per jam.

"Paling Kompleks Setelah Misi Berawak"

CEO True Anomaly, Even Rogers, yang merupakan veteran misi antariksa militer AS, menyebut pencapaian ini sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah.

"Di luar misi penerbangan antariksa berawak NASA dan Space Force, ini mungkin adalah operasi rendezvous dan proximity paling kompleks antara dua wahana antariksa dalam sejarah modern," ujar Rogers kepada TechCrunch.

Demonstrasi ini berbeda dari misi sebelumnya, seperti yang dilakukan oleh satelit pemeliharaan Northrop Grumman atau misi pembersihan sampah antariksa Astroscale, yang biasanya beroperasi dalam jangka waktu yang lebih lambat.

Mengapa Militer AS Butuh Kemampuan Ini?

Menurut Rogers, kemampuan inspeksi jarak dekat ini sangat vital untuk menutup celah dalam kapasitas pengumpulan data intelijen militer AS.

"China dan Rusia secara rutin meluncurkan berbagai kemampuan ke antariksa, dan sebagian dari tugas Space Force adalah memahami kemampuan apa saja yang mereka miliki. Saat ini kami memiliki celah dalam kapasitas pengumpulan data," jelas Rogers.

Militer memang sudah lama mengirimkan satelit untuk terbang mendekati wahana rival guna mengintai kemampuannya. Namun, skala operasi semacam ini dinilai akan lebih efektif jika dikelola oleh sektor swasta.

Langkah Selanjutnya dan Potensi Bisnis

Kedua perusahaan bersiap untuk melakukan serangkaian latihan baru dalam beberapa pekan ke depan dengan tingkat kesulitan yang meningkat. Skenario berikutnya bahkan bisa mencakup upaya Puma untuk menghindari Jackal dan melakukan manuver inspeksinya sendiri.

True Anomaly, yang didirikan pada 2022 oleh Rogers dan sejumlah mantan pakar antariksa militer, telah mengumpulkan dana lebih dari USD 1 miliar (sekitar Rp 16,5 triliun), termasuk putaran pendanaan sebesar USD 650 juta pada Maret lalu.

"Itulah resep rahasia perusahaan ini," ujar Seth Winterroth, partner di Eclipse Ventures yang duduk di dewan direksi True Anomaly. "Ini bukanlah satu arsitektur wahana antariksa atau satu perangkat lunak—ini adalah pemahaman yang mendalam tentang seperti apa taktik dan doktrin di domain ini."

Keberhasilan misi ini menjadi tiket penting bagi True Anomaly untuk bersaing mendapatkan kontrak dalam program Andromeda milik Space Force yang bernilai USD 6,2 miliar (sekitar Rp 102 triliun). Program tersebut secara khusus mencari sektor swasta untuk menyediakan kemampuan pengintaian bermanuver semacam ini.

"Riwayat penerbangan adalah segalanya, dan kemampuan yang telah terbukti adalah hal yang paling berbicara lantang dalam peluang-peluang ini," pungkas Rogers.

Follow halobontang.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: techcrunch.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks