KALIMANTAN TIMUR — Upacara yang digelar di lapangan Kementerian Sosial, Jakarta, itu menjadi panggung bagi Gus Ipul—sapaan akrab Mensos—untuk menyampaikan pesan yang jarang muncul dalam forum resmi kenegaraan: soal dapur yang menyala, anak yang tetap menggambar matahari, dan petugas yang tidak membuat warga miskin merasa kecil.
Puisi Refleksi Pelayanan Negara
Setelah membacakan amanat tertulis Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Gus Ipul membacakan puisi karyanya sendiri. Naskah itu menggambarkan keluarga bukan sekadar alamat di KTP, melainkan ruang berbagi nasi sebungkus dan selimut tipis.
"Keluarga, sering berupa nasi sebungkus yang dibagi lima, selimut tipis yang ditarik pelan agar yang lain mendapat hangat, dan anak-anak yang tetap menggambar matahari meski rumahnya belum tentu terang," demikian penggalan puisi yang dibacakan di hadapan para pejabat dan pegawai Kemensos.
Gus Ipul menekankan bahwa negara sering ditunggu di rumah-rumah kecil itu—bukan dalam bentuk pidato atau spanduk, melainkan beras yang sampai, kursi roda yang datang, dan sekolah yang membuka pintu. "Bila kita melayani dengan ramah, ingatlah: mungkin itu pertama kalinya orang miskin merasa dihormati negara," ujarnya membacakan salah satu bait.
Pesan untuk Ayah di Era Digital
Dalam amanat yang dibacakannya, Gus Ipul menyebut Hari Keluarga Nasional sebagai momentum refleksi, bukan sekadar seremonial. Ia menyoroti tantangan era VUCA—Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity—yang menurutnya menjadikan keluarga sebagai benteng pertama menghadapi perubahan sosial dan derasnya arus teknologi digital.
"Para ayah harus mengambil peran yang lebih besar dalam pengasuhan anak. Ini sangat penting dalam membentuk karakter serta menjaga stabilitas psikologis anak," kata Gus Ipul mengutip amanat tersebut.
Sejarah Harganas dan Peran Strategis Keluarga
Peringatan Harganas setiap 29 Juni bermula dari gagasan Kepala BKKBN era Orde Baru, Haryono Suyono, yang kemudian mendapat persetujuan Presiden Soeharto. Pertama kali diperingati secara nasional di Lampung pada 1993, momentum ini diambil dari peristiwa bersejarah ketika masyarakat Indonesia bisa kembali berkumpul bersama keluarga setelah masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Rangkaian upacara kali ini juga diisi dengan menyanyikan Mars BKKBN. Gus Ipul menutup sambutannya dengan pesan: ibu harus dikuatkan, ayah harus selalu ada, anak harus dijaga, lansia harus dimuliakan, dan yang rentan jangan ditinggalkan. "Kemensos Selalu Ada untuk Keluarga Indonesia," pungkasnya.