SAMARINDA — Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud menilai daerahnya mengalami paradoks ekonomi. Di satu sisi, Kaltim menjadi produsen batu bara nomor satu nasional dengan kontribusi 61 persen dan migas 30 persen. Namun di sisi lain, persoalan dasar seperti listrik padam dan kelangkaan bahan pokok masih terjadi.
“Kita produsen batu bara nomor satu nasional, sekitar 61 persen ada di Kaltim. Migas juga 30 persen nasional. Tapi kalau masih ada antrean BBM, minyak goreng sulit, ini tidak relevan,” tegasnya dalam pencanangan Sensus Ekonomi 2026 di Gedung Odah Etam, Kamis malam.
Pertumbuhan Melambat, PHK Mulai Terjadi
Data yang dipaparkan Rudy menunjukkan tren perlambatan signifikan. Pertumbuhan ekonomi Kaltim tercatat 6,19 persen pada 2024, turun menjadi 4,53 persen pada 2025, dan kembali melemah ke angka 2,99 persen pada triwulan pertama 2026.
Menurutnya, kondisi ini dipicu ketergantungan pada sektor ekstraktif batu bara. Penurunan harga komoditas dan kendala regulasi, seperti tidak disetujuinya RKAB, memperburuk situasi. Akibatnya, sekitar 11.070 pekerja dilaporkan terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK) berdasarkan data terbaru.
“Ini menjadi alarm serius bagi kita. Kita harus menjaga agar pertumbuhan ekonomi bisa mendekati target nasional 8 persen,” ujarnya.
Potensi Besar Migas dan Sawit Belum Optimal
Rudy membeberkan potensi besar yang belum termanfaatkan maksimal. Sektor migas yang dikelola ENI, perusahaan asal Italia, saat ini memproduksi sekitar 700 juta kaki kubik per hari. Produksi itu diproyeksikan meningkat hingga 1,8 miliar kaki kubik per hari pada periode 2028–2030.
Di sektor perkebunan, dari sekitar 3 juta hektare lahan sawit, Kaltim mampu menghasilkan 4,8 hingga 5,2 juta ton crude palm oil (CPO) per tahun. Luas hutan mencapai 8,2 juta hektare yang dinilai punya potensi besar mendukung pertumbuhan ekonomi.
Wilayah Terisolir dan Pentingnya Data Akurat
Rudy juga menyoroti masih adanya wilayah terisolir di Kaltim, khususnya di Kabupaten Kutai Barat seperti Tanjung Soke, Deraya, Gerunggung, dan Lemper. Pemerintah berkomitmen membuka akses dan konektivitas antarwilayah, tidak hanya di Kaltim tetapi juga se-Kalimantan.
Ia menekankan transformasi ekonomi dari ketergantungan sumber daya alam ke sektor berkelanjutan seperti ekonomi hijau dan biru. Rudy mengutip pemikiran Presiden ke-3 RI B.J. Habibie bahwa pembangunan harus bertumpu pada kualitas sumber daya manusia, bukan semata sumber daya alam.
Terkait Sensus Ekonomi 2026, Rudy mendorong sensus dilakukan lebih sering dari setiap 10 tahun sekali. “Satu data akurat hari ini bisa menentukan jutaan keputusan ke depan. Karena itu saya selalu tekankan, kita harus speak by data,” pungkasnya.