PENAJAM — Harga tandan buah segar (TBS) sawit di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menunjukkan tren positif. Petani yang tergabung dalam skema kemitraan kini bisa menikmati harga jual hingga Rp 3.400 per kilogram.
Kenaikan ini terjadi setelah harga TBS sempat terperosok ke level terendah yang membuat pendapatan petani turun drastis. Kondisi itu memicu kekhawatiran di kalangan pekebun sawit di wilayah tersebut.
Kemitraan Jadi Bantalan Saat Harga Anjlok
Skema kemitraan antara petani dan perusahaan sawit dinilai menjadi faktor kunci di balik pulihnya harga TBS. Petani mitra mendapatkan kepastian pasar dan harga yang lebih stabil dibandingkan petani swadaya yang menjual ke tengkulak.
“Kemitraan ini membuat kami tidak terlalu terpukul saat harga jatuh. Perusahaan tetap membeli dengan harga yang sudah disepakati,” ujar salah seorang petani mitra di PPU.
Sistem kemitraan memungkinkan petani mendapatkan akses terhadap bibit unggul, pupuk, dan pendampingan teknis. Hasilnya, kualitas TBS yang dihasilkan lebih baik dan dihargai lebih tinggi oleh pabrik.
Mengapa Harga TBS Sempat Merosot?
Sebelum merangkak naik, harga TBS di PPU sempat ambruk akibat fluktuasi harga minyak sawit mentah (CPO) global. Kondisi ini diperparah oleh panjangnya rantai pasok yang membuat petani swadaya tidak memiliki daya tawar.
Bagi petani non-mitra, harga jual sering kali lebih rendah karena harus melalui perantara. Ketika harga pabrik turun, tengkulak menekan harga beli di tingkat kebun lebih dalam lagi.
Apa Dampaknya bagi Petani Swadaya?
Meski harga TBS mitra sudah membaik, petani swadaya di PPU masih menghadapi ketidakpastian. Mereka tidak terikat kontrak dengan perusahaan sehingga rentan terhadap gejolak harga.
Pemerintah daerah disebut tengah mendorong perluasan program kemitraan agar lebih banyak petani swadaya bisa bergabung. Langkah ini diharapkan bisa memangkas rantai distribusi dan meningkatkan kesejahteraan pekebun kecil.
Langkah Selanjutnya: Stabilitas Harga Jangka Panjang
Ke depan, petani mitra berharap harga TBS bisa bertahan di atas Rp 3.000 per kilogram. Mereka juga meminta perusahaan dan pemerintah memperkuat sistem bagi hasil yang adil.
“Jangan sampai kenaikan ini hanya sementara. Kami butuh kepastian agar bisa merencanakan biaya kebun,” tambah petani tersebut.
Dengan skema kemitraan yang terus diperbaiki, sektor sawit di PPU diharapkan tidak hanya bertahan dari guncangan harga, tapi juga menjadi motor ekonomi warga.