Pencarian

Petambak di Berau Buktikan Produktivitas Naik 15 Persen Tanpa Tebang Mangrove, Begini Metodenya

Rabu, 17 Juni 2026 • 13:17:01 WIB
Petambak di Berau Buktikan Produktivitas Naik 15 Persen Tanpa Tebang Mangrove, Begini Metodenya
Petambak di Berau berhasil meningkatkan produktivitas udang hingga 15 persen tanpa menebang mangrove.

BERAU — Selama puluhan tahun, budidaya tambak tradisional di kawasan pesisir Berau identik dengan perluasan lahan yang kerap mengorbankan hutan bakau. Akibatnya, kualitas air menurun, tanah memburuk, dan hasil panen tidak stabil. Kini, pendekatan itu mulai ditinggalkan.

Program Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle (SOMACORE) yang digagas Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama Dinas Perikanan Kabupaten Berau menghadirkan sistem SECURE. Prinsipnya sederhana: hasil yang lebih baik tidak harus diperoleh dengan lahan yang lebih luas.

Lahan 20 Persen, Produksi Justru Naik

Dalam sistem ini, hanya sekitar 20 persen dari total area tambak yang digunakan untuk budidaya. Sisanya, 80 persen lahan, dikembalikan fungsinya sebagai kawasan konservasi dan pemulihan mangrove.

Hasilnya terlihat di tambak milik Abdul Rahman di Kampung Pegat Batumbuk. Sebelum menerapkan SECURE, seluruh area tambaknya digunakan untuk budidaya, tetapi hasil panen udang windu hanya sekitar 100 kilogram per masa tanam.

Kini, meski area budidaya menyusut hingga tinggal seperlima, hasil yang diperoleh justru meningkat. Pada panen baru-baru ini, tambaknya menghasilkan 115 kilogram udang windu, 141 kilogram udang bintik, 1,9 ton ikan bandeng, dan 50 kilogram kepiting bakau. Produksi udang windu naik sekitar 15 persen.

Sekolah Lapang dan Nursery Jadi Kunci

Keberhasilan ini tidak datang instan. Para petambak mendapat pendampingan intensif melalui sekolah lapang. Mereka diajarkan membuat kompos dan Mikroorganisme Lokal (MOL) dari bahan organik di sekitar tambak.

Kompos berfungsi meningkatkan kesuburan dasar perairan dan merangsang pertumbuhan pakan alami. Sementara itu, MOL menjaga keseimbangan unsur hara dan mikroba di dalam air, mencegah ledakan hama, serta mempertahankan kualitas air tambak. Dampaknya, biaya operasional lebih rendah.

Perubahan signifikan lainnya datang dari sistem nursery atau pendederan. Benih udang dan ikan tidak langsung ditebar ke kolam pembesaran, melainkan dipelihara terlebih dahulu di kolam kecil hingga cukup kuat beradaptasi.

Jumardi, petambak asal Kampung Suaran yang mengelola tambak bersama ayahnya, Satar, merasakan langsung manfaat metode ini. Sebelumnya, benih udang windu dan bandeng langsung ditebar sehingga tingkat keberhasilannya tidak selalu optimal.

Kini, benih menjadi lebih kuat dan tingkat kelangsungan hidupnya meningkat. Pada panen di hari yang sama, tambak milik Jumardi dan keluarganya menghasilkan 284,2 kilogram udang windu serta 120 kilogram udang bintik, capaian yang jauh lebih stabil dan menguntungkan.

Mangrove, Penyangga Kehidupan Tambak

Keberhasilan di Berau ini menjadi bukti bahwa menjaga alam justru menjadi kunci untuk memastikan sumber penghidupan yang berkelanjutan. Mangrove yang pulih tidak hanya menjadi benteng alami kawasan pesisir, tetapi juga menyediakan pakan alami yang mendukung produktivitas tambak.

Kolaborasi antara YKAN, Dinas Perikanan Kabupaten Berau, dan masyarakat setempat dalam program SOMACORE menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi dan kelestarian alam dapat berjalan beriringan. Para petambak kini tidak lagi bergantung pada perluasan lahan, melainkan pada pengelolaan yang lebih cerdas dan ramah lingkungan.

Bagikan
Sumber: kaltim.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks