SAMARINDA — Tiga lokasi cagar budaya di Kabupaten Paser kini memiliki penjaga khusus. BPK Kaltim menerjunkan dua hingga tiga orang juru pelihara di setiap situs untuk mendampingi pengunjung dan mengawal kondisi fisik bangunan bersejarah.
Jejak peradaban Islam di Paser tidak bisa dilepaskan dari Kesultanan Paser. Simbol kebesaran masa lalu itu kini dapat disaksikan langsung di Istana Kesultanan Paser yang telah berfungsi sebagai Museum Sadurangas.
Arsitektur Masjid dan Kompleks Makam Raja
Tidak jauh dari pusat keraton, Masjid Besar Nurul Ibadah berdiri sebagai bukti syiar Islam yang pesat. Arsitektur bangunannya disebut mencerminkan akulturasi yang kuat antara budaya lokal dan pengaruh dari Bugis, Banjar, hingga Arab dan Tionghoa.
"Jejak leluhur itu juga dilengkapi keberadaan Kompleks Makam Raja-Raja Kesultanan Paser di Desa Pasir Balengkong yang dihormati masyarakat setempat," kata Lestari di Samarinda, Sabtu.
Tugas Juru Pelihara: Narasi hingga Foto Dokumentasi
Para juru pelihara tidak hanya menjaga bangunan. Mereka bertugas menyajikan narasi sejarah secara utuh kepada setiap pengunjung. Mereka juga melayani kebutuhan wisatawan dalam pengambilan foto dokumentasi selama eksplorasi sejarah di lokasi.
BPK Kaltim meminta masyarakat ikut menilai kualitas layanan para juru pelihara. "Evaluasi partisipatif dan masukan langsung dari masyarakat akan dijadikan bahan dalam strategi peningkatan kualitas layanan kepurbakalaan pada masa mendatang," ujar Lestari.
Kunci Pelestarian: Keterlibatan Publik
Pemerintah, kata Lestari, sadar bahwa merawat ingatan kolektif bangsa tidak bisa dilakukan sepihak. Keterlibatan publik menjadi kunci agar warisan budaya tersebut abadi melintasi zaman.
Kabupaten Paser menyimpan tiga situs utama yang menjadi bukti akulturasi keislaman: Museum Sadurangas (eks Istana Kesultanan), Masjid Besar Nurul Ibadah, dan Kompleks Makam Raja-Raja di Pasir Balengkong. Ketiganya kini memiliki juru pelihara yang siap memandu pengunjung.